Pemeriksaan Tuberkulosis pada warga.(Dok. Antara)
KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah wilayah (pemda) untuk memperkuat peran tenaga kesehatan (nakes) hingga tingkat kelurahan dan perdesaan. Langkah ini krusial dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular tuberkulosis (Tb) di Indonesia.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menekankan pentingnya optimasi nakes dalam memberikan edukasi pencegahan kepada masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau Pelaksanaan Skrining Tb Terintegrasi Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Medan, Sumatera Utara, Selasa (21/7).
"Tolong optimalkan tenaga kesehatan dalam edukasi pencegahan penyakit menular tuberkulosis," ujar Benjamin.
Menurut Benjamin, penurunan nomor kasus tuberkulosis memerlukan kontribusi seluruh komponen masyarakat, terutama tenaga kesehatan nan menjadi garda terdepan di tingkat paling bawah. Saat ini, Indonesia menempati posisi kedua dengan kasus tuberkulosis tertinggi di dunia, menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus global.
"Kalau 100.000 per orang kasus kita lebih tinggi dari India. Kita nomor satu di bumi jika hitungannya per 100.000 orang," ungkapnya.
Oleh lantaran itu, Wamenkes membujuk seluruh kepala wilayah untuk bersinergi menurunkan prevalensi Tb melalui kajian mendalam dan penguatan nakes. Ia menginstruksikan para nakes untuk lebih gencar melakukan edukasi, penemuan dini, serta memperluas upaya pemutusan rantai penularan.
Sebagai bagian dari strategi nasional, Kemenkes bakal memperluas pencarian kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), penggunaan rontgen portabel, serta tes cepat.
Terkait pemetaan wilayah, Benjamin menyebut bahwa Sumatra Utara mempunyai 3.000 letak konsentrasi penelusuran Tb. Khusus untuk Kota Medan, tercatat ada 661 letak pada tahun ini.
"Secara nasional mencapai 53.335 letak mulai Juli hingga akhir November 2026 dengan sasaran cakupan mencapai 90 persen," pungkasnya.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·