Kemenkes Tarik Investasi dari Raksasa Pabrik Plasma dan Vaksin

4 hari yang lalu 9
Kemenkes Tarik Investasi dari Raksasa Pabrik Plasma dan Vaksin ilustrasi investsi plasma dan vaksin.(MI)

KEMENTERIAN Kesehatan sukses menarik investasi asing berskala raksasa di sektor hilirisasi industri kesehatan. Sepanjang 2026, pemerintah mengamankan komitmen investasi senilai lebih dari USD 1 miliar dari perusahaan asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah berkapasitas produksi satu juta liter per tahun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menyatakan langkah strategis ini merupakan perwujudan Pilar ke-3 Transformasi Kesehatan, ialah Ketahanan Kesehatan. Percepatan hilirisasi ini didorong oleh krisis nan terjadi saat pandemi covid-19, di mana Indonesia mengalami kelangkaan parah perangkat pelindung diri (APD), masker, reagen PCR, vaksin, hingga obat-obatan esensial akibat ketergantungan pada produk impor.

"Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan kudu bayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9," kata Budi dalam keterangannya, Jumat (17/7).

PDP merupakan obat penunjang daya tahan tubuh dan pembekuan darah. Obat ini diproduksi melalui proses hilirisasi pemisahan (fraksionasi) plasma dari darah manusia. “Sebagai negara dengan masyarakat keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya mempunyai sumber daya bahan baku darah nan sangat melimpah untuk diolah secara berdikari menjadi PDP. Ini nan sedang kita hilirisasi,” tegasnya.

Untuk merealisasikan kemandirian tersebut, Kemenkes telah merelaksasi izin mengenai pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan ini menarik minat perusahaan biofarmasi asal Korea Selatan, SK Plasma, nan berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Investasi /Indonesia Investmen Authority (INA) pada 2024.

Pabrik SK Plasma nan menelan investasi USD300 juta dengan kapabilitas produksi 600.000 liter per tahun tersebut telah rampung dibangun pada 2026 ini. Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia ini ditargetkan beraksi penuh pada 2027, setelah mengantongi izin edar dan operasional dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Keberhasilan suasana investasi tersebut disusul oleh masuknya Takeda, salah satu produsen PDP terbesar di dunia, sebagai penanammodal pabrik plasma kedua di Indonesia dengan kapabilitas produksi nan lebih masif.

Selain industri plasma darah, lompatan kemandirian juga terwujud di penyediaan vaksin. Kemenkes telah mendorong operasional dua pabrik vaksin dalam negeri berskala besar, ialah PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. Khusus PT Biotis, pabrik ini juga mengembangkan Vaksin Merah Putih nan merupakan hasil penelitian murni anak bangsa. "Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya.

Lewat berdirinya akomodasi produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan kesiapan obat dan vaksin rakyat ke depan bakal selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," pungkasnya. (Iam/P-3)

Selengkapnya