Petugas kesehatan membawa peralatan operasi di Rumah Sakit Lapangan Ruteng di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, NTT, Jumat (21/8/2026).(Antara)
KEMENTERIAN Kesehatan memberangkatkan 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) ke Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (24/8). Langkah ini dilakukan untuk merespons sigap krisis kesehatan pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 nan melanda wilayah Pulau Flores.
Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, melepas langsung para relawan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Para relawan bakal bekerja selama 14 hari di enam wilayah nan terdampak berat, ialah Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Gempa nan terjadi pada 15 Agustus tersebut berakibat terhadap 1,9 juta jiwa di tujuh kabupaten/kota. Berdasarkan info Pusat Krisis Kesehatan per 23 Agustus 2026, musibah ini mengakibatkan 91 orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka, dan 161.874 penduduk mengungsi. Gempa juga memicu kelumpuhan sejumlah akomodasi kesehatan setempat.
"Saudara meninggalkan family dan pekerjaan untuk datang ketika masyarakat sangat memerlukan bantuan. Terima kasih atas panggilan kemanusiaan ini," kata Kunta dalam keterangannya, Selasa (25/8).
Kunta menitipkan tiga petunjuk tegas kepada para relawan. Pertama, relawan kudu konsentrasi mengidentifikasi dan menyelesaikan krisis medis di lapangan. Kedua, seluruh komponen kudu bekerja sebagai satu tim nan solid tanpa memandang latar belakang institusi. Ketiga, relawan wajib memprioritaskan keselamatan diri.
"Saudara berangkat untuk membantu korban, bukan menjadi korban berikutnya. Jangan menganggap kelelahan sebagai tanda pengabdian," tegas Kunta.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, merinci bahwa relawan nan diberangkatkan sejumlah 128 orang, terdiri dari master umum, sejumlah master spesialis, antara lain penyakit dalam, anak, bedah, dan ortopedi, serta perawat, bidan, dan tenaga farmasi. Para tenaga medis tersebut juga bakal didukung oleh 78 master internsip nan telah berada di Pulau Flores.
Kehadiran tenaga tambahan ini didorong oleh panggilan kemanusiaan para relawan. Bagi Bidan Istiqomah, relawan nan bakal ditugaskan ke Kabupaten Nagekeo, keberangkatan ini merupakan kali kedua dirinya berasosiasi dengan TCK. Sebelumnya, dia terjun menangani krisis di Tamiang, Aceh, pada Desember 2025.
Alih-alih jera menghadapi beratnya medan bencana, Istiqomah nan merupakan pegawai RSUP Fatmawati mengaku pengalaman tersebut justru semakin menumbuhkan panggilan hati untuk terus membantu.
"Kalau buat saya, menjadi relawan ini rasanya malah nagih (membuat ketagihan untuk mengabdi). Persiapannya nan paling utama adalah bentuk dan obat-obatan pribadi. Harapannya, semoga semua penduduk di Ende bisa kita bantu dan lekas pulih," tuturnya.
Semangat dedikasi serupa juga ditegaskan Muhammad Amir Sahala, relawan master ahli ortopedi dari RS Fatmawati nan bakal bekerja di RSUD Borong, Manggarai Timur. Ia menyadari tingginya kebutuhan medis, terutama bagi korban nan mengalami cedera akibat reruntuhan.
"Banyak sekali korban nan memerlukan di tengah kekurangan tenaga kesehatan saat ini. Pasti kita bakal jadi respons utama untuk membantu korban agar semua dapat tertangani dan mendapat perawatan nan terbaik," ungkap dr. Amir.
Kehadiran TCK diharapkan bisa memperkuat tenaga kesehatan wilayah nan telah bekerja sejak awal bencana, sekaligus menjaga kesinambungan jasa esensial hingga kapabilitas kesehatan wilayah pulih sepenuhnya. (Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·