Jakarta, CNBC Indonesia - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan telah menyatakan asuransi peralatan milik negara (BMN) nan terimbas musibah Sumatera.
Realisasi pembayaran klaim atas BMN nan terdampak banjir Siklon Senyar di wilayah Sumatera pada 2025 itu telah dilakukan Konsorsium Asuransi Barang Milik Negara (ABMN) sejak Senin (27/7/2026).
Penyerahan dilakukan langsung di Aula Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), Jakarta, dan disaksikan langsung oleh Direktur Jenderal Kekayaan Negara Evita Manthovani.
Setelah pembayaran klaim diterima, DJKN langsung menyerahkan pembayaran klaim atas kerusakan gedung pendidikan milik Kementerian Agama akibat banjir Siklon Senyar nan terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.
"Pembayaran klaim tersebut diberikan kepada sejumlah kementerian/lembaga nan BMN-nya terdampak bencana, dengan sebagian besar digunakan untuk pemulihan akomodasi pendidikan milik Kementerian Agama, serta aset kementerian/lembaga lainnya," kata Kepala Subdit Humas Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Adi Wibowo kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (29/7/2026).
Total klaim asuransi BMN itu sekitar Rp 27,02 miliar, terdiri dari nilai klaim nan telah dibayarkan atas aset nan terdampak musibah mencapai Rp20,98 miliar, dalam proses pembayaran oleh konsorsium ABMN Rp5,11 miliar, dan nan tetap menunggu persetujuan kementerian alias lembaga mengenai Rp932 juta.
"Dana hasil klaim dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan Barang Milik Negara nan terdampak musibah sehingga kementerian/lembaga dapat segera melakukan rehabilitasi aset dan menjaga keberlangsungan pelayanan publik," ujar Adi.
Pemerintah menganggap, melalui skema asuransi BMN ini, proses pemulihan BMN nan terdampak akibat musibah tidak lagi sepenuhnya berjuntai pada penganggaran kembali melalui APBN sehingga penanganan pascabencana dapat dilakukan lebih cepat.
Program Asuransi BMN sendiri telah dijalankan sejak 2019 dan terus mengalami penyempurnaan, mulai dari ekspansi objek nan diasuransikan, penyempurnaan dasar nilai pertanggungan berbasis value at risk, digitalisasi proses perencanaan dan klaim, penguatan pemetaan akibat aset, hingga peningkatan kapabilitas sumber daya manusia melalui training dan kerja sama dengan beragam mitra strategis, termasuk Bank Dunia.
Sejak pertama kali diimplementasikan, nilai pertanggungan Asuransi BMN juga terus meningkat, dari Rp10,73 triliun pada 2019 menjadi Rp92,22 triliun pada 2025 melalui kombinasi pendanaan rupiah murni dan pooling fund bencana.
(arj/arj)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
6







English (US) ·
Indonesian (ID) ·