Kemensos Perkuat Dukungan Psikososial bagi Korban Gempa NTT

1 jam yang lalu 4
Kemensos Perkuat Dukungan Psikososial bagi Korban Gempa NTT Para penyintas gempa M 7,7 Flores, nan sebelumnya tinggal sementara di pengungsian terpusat Gor Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, naik ke truk TNI AL untuk diantar kembali ke rumah masing-masing, Senin (24/8/2026).(Dok BNPB)

KEMENTERIAN Sosial (Kemensos) memperkuat jasa support psikososial (LDP) bagi penduduk terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Layanan nan diberikan di letak pengungsian tersebut diprioritaskan bagi golongan rentan, mulai dari anak-anak, wanita dewasa, ibu mengandung dan menyusui, hingga lanjut usia.

Subcluster LDP mulai diaktifkan pada hari ketiga masa pengungsian. Sebanyak 18 lembaga dan organisasi nonpemerintah (NGO) terlibat dalam jasa tersebut. Sebagian besar lembaga berfokus pada pendampingan anak, sedangkan penanganan golongan dewasa dilakukan berbareng tim Kemensos.

Pendampingan diawali dengan asesmen psikososial untuk memetakan kondisi penduduk setelah mengalami bencana. Berdasarkan hasil asesmen, sekitar 19 persen korban masuk kategori merah alias berisiko sangat tinggi. Sebanyak 31 persen berada dalam kategori kuning dengan akibat sedang, sementara 50 persen lainnya masuk kategori hijau alias berisiko ringan.

"Yang merah kami rujuk ke psikolog lantaran kasus dengan akibat tinggi kudu ditangani oleh tim ahli. Sementara nan masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui jasa psikososial," kata Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial, Igun Gunawan.

Korban nan masuk kategori merah kemudian menjalani asesmen lanjutan setelah mendapatkan rujukan kepada psikolog. Penanganan dilakukan oleh psikolog dari sejumlah universitas serta tenaga ahli nan tergabung dalam tim penanganan bencana. Pendampingan tersebut ditujukan bagi penduduk nan mengalami akibat psikologis maupun paparan traumatis berat.

Sementara itu, penduduk dalam kategori kuning dan hijau memperoleh pendampingan melalui Psychological First Aid (PFA), aktivitas rekreasional, serta beragam aktivitas nan diarahkan untuk memulihkan kegunaan sosial mereka.

Kondisi psikologis sebagian penduduk juga dipengaruhi pengalaman musibah masa lalu. Sejumlah penduduk pernah mengalami gempa dan tsunami pada 1992 sehingga gempa susulan berpotensi memunculkan kembali rasa takut dan kecemasan.

"Karena sebagian penduduk mempunyai pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada nan kembali mengalami keterkejutan, kekhawatiran alias ketakutan. Karena itu, kami memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar mereka mengetahui apa nan dapat dilakukan ketika merasa resah alias takut," ujar Igun.

Selain membantu penduduk mengelola kecemasan, tim juga memberikan edukasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan gempa susulan. Warga dilatih mengenai langkah-langkah pengamanan diri agar lebih siap ketika terjadi guncangan berikutnya.

Pendampingan psikososial dilakukan secara teragendakan mengikuti aktivitas harian di pengungsian. Kegiatan dimulai sejak pukul 06.00 Wita melalui senam pagi nan melibatkan warga, anak-anak, relawan, TNI, dan Polri. Setelah itu, penduduk mengikuti sarapan dan aktivitas kebersihan lingkungan.

Pada pukul 10.00–12.00 Wita, pendampingan diarahkan terutama kepada anak-anak melalui aktivitas rekreasional, PFA, dan aktivitas psikososial lainnya. Setelah jarak istirahat, jasa pada pukul 14.00–16.00 Wita ditujukan kepada wanita dewasa, ibu mengandung dan menyusui, serta lansia.

"Ada jasa rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada jasa untuk mengembalikan kegunaan sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur," ucapnya.

Pendampingan anak kembali dilakukan mulai pukul 16.00 Wita hingga menjelang malam berbareng para relawan nan tergabung dalam subcluster LDP. Aktivitas kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dan kepercayaan masing-masing warga.

Bagi anak-anak Muslim, aktivitas setelah salat Magrib dilanjutkan dengan Magrib Mengaji di musala darurat. Sementara anak-anak Katolik mengikuti aktivitas Sekolah Minggu pada Minggu.

Kemensos memastikan jasa support psikososial tetap melangkah selama masa pengungsian. Pendampingan dilakukan secara berjenjang berasas hasil asesmen, termasuk memberikan rujukan kepada tenaga ahli bagi penduduk nan memerlukan penanganan psikologis lebih lanjut. (E-4)

Selengkapnya