Kementan Percepat Pencairan Dana Pemulihan Sektor Pertanian Aceh

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch. Arief Cahyono, menyambut baik penjelasan ahli bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengenai sistem support Kementerian Pertanian untuk pemulihan sektor pertanian dan perkebunan pascabencana hidrometeorologi di Aceh.

"Penjelasan nan disampaikan Pemerintah Aceh sudah tepat dan sejalan dengan info nan kami miliki. Ini menunjukkan komunikasi nan baik antara Kementan dan Pemerintah Aceh, sebagaimana hubungan erat antara Pak Menteri dan Pak Gubernur," ujar Arief dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Arief menjelaskan bahwa total alokasi support pemulihan sektor pertanian di Aceh mencapai Rp1,7 triliun, dari jumlah tersebut, Rp530 miliar disalurkan langsung ke wilayah untuk aktivitas optimasi lahan dan rehabilitasi sawah melalui biaya Tugas Pembantuan. Sisanya sebesar Rp1,2 trilliun dikelola melalui satker pusat dan balai di bawah Kementan, berupa perangkat mesin pertanian serta bibit padi, jagung, dan komoditas lainnya nan langsung disalurkan sebagai faedah kepada petani di Aceh.

Arief menyampaikan bahwa penyelenggaraan program dari biaya Rp530 miliar nan disalurkan langsung ke wilayah semestinya sudah rampung bulan Juni lalu. Namun, hingga sekarang baru terealisasi 48%. Perlu ada percepatan dari semua pihak lantaran saat ini sudah bulan Agustus. Jika tidak terserap sampai akhir tahun, biaya ini bakal dikembalikan ke kas negara.

Realisasi anggaran melalui Satker dan Balai di bawah Kementan nan totalnya mencapai Rp1,2 triliun juga perlu percepatan. Keterlambatan ini disebabkan lambatnya usulan penetapan CPCL (calon petani calon lokasi) dari pemerintah daerah. Tanpa CPCL lengkap, anggaran tidak bisa dicairkan. Perlu ada percepatan dalam pengusulan dan kelengkapan administrasinya agar support bisa segera dinikmati para petani terdampak bencana.

"Pak Menteri pada dasarnya mau membujuk semua pihak berbareng lakukan percepatan realisasi anggaran satker pusat ini. Ini tanggung jawab berbareng lantaran manfaatnya sangat dinantikan petani di Aceh," katanya.

Arief melanjutkan semua program pemerintah pusat ini adalah untuk masyarakat Aceh, dan berambisi seluruh pihak dapat bersama-sama mempercepat pemanfaatannya, mengingat waktu tersisa 2026 tinggal 4 bulan. Apabila tidak segera dicairkan, biaya tersebut bakal kembali ke kas negara dan manfaatnya tidak dirasakan optimal oleh petani Aceh.

"Anggaran tersisa tetap sekitar Rp1,1 trilliun dan waktu tidak banyak. Serapan baru 25% dan kita kudu berbareng segera selesaikan," tambahnya.

Selain program pemerintah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berbareng mitra kerja sudah mengalokasikan biaya pribadi sekitar Rp40 miliar sebagai corak kepedulian dan kecintaannya pada masyarakat Aceh. Seluruh biaya tersebut sudah tersalur sebagai biaya support di awal-awal bencana.

Arief turut mengenang momen kunjungan Gubernur Aceh Muzakir Manaf ke kediaman Amran di Jakarta pada Selasa, 4 Agustus 2026. Pertemuan tersebut berjalan penuh kehangatan dan persahabatan, di mana Gubernur menyampaikan langsung apresiasi dan terima kasih atas support pemulihan pascabencana sektor pertanian dan perkebunan di Aceh.

"Kehangatan pertemuan itu mencerminkan hubungan baik nan selama ini terjalin antara Pak Menteri dan Pak Gubernur, dan menjadi modal krusial untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian di Aceh. Semangat percepatan ini semata-mata demi kepentingan rakyat Aceh," ujar Arief.

Arief menegaskan komitmen Kementan untuk terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh dan seluruh pemangku kepentingan, agar percepatan pemulihan ini betul-betul dirasakan manfaatnya oleh petani Aceh.

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya