Jakarta, CNBC Indonesia - Argentina dikenal sebagai salah satu negara sepak bola terbesar di dunia. Namun, di kembali sederet prestasi tersebut, negara ini juga kerap dianggap sebagai salah satu negara dengan persoalan rasisme nan menonjol.
Anggapan itu muncul dari proyek pembentukan bangsa nan dimulai pada abad ke-19. Pada masa itu, pemerintah Argentina bukan hanya membuka pintu bagi imigran Eropa, tetapi juga menjadikannya bagian dari konstitusi negara.
Kebijakan tersebut kemudian membentuk identitas nasional nan pengaruhnya tetap diperdebatkan hingga sekarang. Salah satu titik pentingnya terdapat dalam Konstitusi Argentina 1853.
Dalam Pasal 25, pemerintah federal secara tegas menyatakan bakal mendorong imigrasi dari Eropa. "Pemerintah Federal wajib mendorong imigrasi dari Eropa; dan tidak boleh membatasi, mengurangi, alias membebani dengan pajak apa pun, masuk ke wilayah Argentina," demikian bunyi pasal tersebut.
Mengutip History, pendapat tersebut lahir dari pemikiran Juan Bautista Alberdi salah satu tokoh utama penyusunan Konstitusi 1853. Alberdi meyakini Argentina memerlukan tambahan masyarakat untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
Menurutnya, para imigran Eropa dapat membawa modal, teknologi, keterampilan, serta pengetahuan nan dibutuhkan negara nan baru merdeka. Berangkat dari pendapat tersebut, sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 pemerintah Argentina membuka pintu selebar-lebarnya bagi pendatang dari Italia, Spanyol, Prancis, Jerman, dan beragam negara Eropa lainnya.
Gelombang migrasi itu menjadi salah satu nan terbesar di bumi pada masanya. Diperkirakan sekitar tujuh juta orang Eropa beranjak ke Argentina sepanjang periode tersebut.
Arus migrasi ini mengubah wajah Argentina secara drastis. Buenos Aires berkembang menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan nan kerap disandingkan dengan kota-kota besar di Eropa.
Pada saat nan sama, komposisi masyarakat ikut berubah hingga kebanyakan penduduk Argentina mempunyai garis keturunan Eropa. Dampaknya juga terasa pada sektor ekonomi.
Ya, berkah ekspor gandum dan daging sapi nan didukung masuknya modal serta tenaga kerja baru, Argentina sempat menjadi salah satu negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di bumi pada awal abad ke-20. Namun, keberhasilan tersebut mempunyai akibat sosial nan panjang.
Seiring menguatnya identitas sebagai negara berakar Eropa, keberadaan masyarakat budaya dan organisasi Afro-Argentina semakin tersisih. Dari narasi resmi mengenai sejarah bangsa.
Mengutip The Guardian, dari sinilah, narasi Argentina adalah "bangsa Eropa di Amerika Selatan" kemudian mengakar dalam identitas nasional. Meski tidak otomatis melahirkan rasisme, sejumlah intelektual sosial menilai pandangan tersebut pada sebagian kalangan dapat berkembang menjadi rasa superior terhadap golongan etnis lain, baik masyarakat adat, penduduk keturunan Afrika, maupun masyarakat negara-negara tetangga di Amerika Latin.
Sampai sekarang, warisan itu tetap terlihat. Di bumi sepak bola, misalnya, para suporter dan pemain Argentina kerap melakukan hinaan rasial ke tim musuh sehingga memicu laporan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) ke FIFA di Piala Dunia 2026.
Atas dasar inilah, tetap mengutip The Guardian, banyak kicauan di media sosial (medsos) mau Argentina kalah melawan Spanyol lantaran tidak suka atas sikap rasisnya. Untungnya, kemauan itu terwujud saat Argentina terpaksa bertekuk dengkul di hadapan Spanyol 0-1.
(mfa/sef)
Addsource on Google

20 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·