ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Meteorolgi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi berita terbaru mengenai kejadian suasana El Nino nan sedang melanda Indonesia saat ini. Yaitu kondisi ketika suhu di permukaan laut di Samudra Pasifik naik, menyebabkan hujan nan lebih sedikit di Indonesia.
El Nino ini, kata dia, tidak hanya berakibat pada suasana di Indonesia. Tapi, El Nino juga berakibat menyebabkan kondisi lebih kering di wilayah Indonesia, Australia, Oseania, dan bagian utara Amerika Selatan. Tapi di bagian lain, wilayah seperti Jepang, Amerika Utara bagian selatan, bakal lebih basah.
"Fenomena El Nino ini adalah kejadian dunia akibat anomali dinamika suasana dunia," kata Faisal dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, ditayangkan kanal Youtube Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (29/6/2026).
"Sejak bulan Maret, BMKG telah menyampaikan rilis tentang kejadian El Nino nan bakal terjadi di Indonesia," ucapnya.
Dalam perihal ini, imbuh Faisal, BMKG menggunakan istilah baku nan digunakan lembaga-lembaga meteorologi dan klimatologi dunia. Yaitu, terbagi dalam kategori El Nino Lemah, El Nino Moderat, El Nino Kuat, dan El Nino Sangat Kuat.
"BMKG tidak pernah menamakan El Ninonya dengan julukan tertentu. Kita sebutkan sesuai kategorinya. Saat ini, pada bulan Juni, sampai akhir Juni 2026, indeks ENSO adalah +1,6 nan menunjukkan kondisi hangat di wilayah Samudra Pasifik, dan telah melewati pemisah Netral selama 7 dasarian," paparnya.
"Jadi BMKG memprediksi kesempatan intensitas El Nino mencapai level Kuat itu 98%. Kemudian bakal turun secara perlahan," kata Faisal.
Sebelumnya, BMKG pun telah meningkatkan kesempatan El Nino kuat dari potensi hanya kurang dari 20% menjadi 62%. Ini berarti, ada penguatan kesempatan El Nino meningkat ke kategori Kuat.
Lantas, kapan El Nino berakhir?
Di sisi lain, Faisal menegaskan, kejadian El Nino dan Musim Kemarau adalah 2 perihal berbeda.
"Musim di Indonesia, Musim Hujan dan Musim Kemarau bakal terus terjadi tiap tahunnya. Tapi kejadian El Nino bisa terjadi (setiap) 3-7 tahun, tergantung kondisi dan situasi atmosfer global," terangnya.
"Dan, El Nino ini fenomenanya terjadi kurang lebih selama 9-12 bulan. Bisa lebih panjang, bisa lebih pendek tergantung beragam kondisi. Sehingga diperkirakan, El Nino nan dimulai sejak bulan Mei (2026) itu bakal berhujung di bulan Mei tahun depan (2027) ," kata Faisal.
Dengan begitu, tambah Faisal, Musim Kemarau di Indonesia tahun 2027 kelak tidak bakal berbarengan dengan terjadinya kejadian El Nino.
"Yang perlu kita waspadai adalah ketika kejadian El Nino terjadi berbarengan dengan Musim Kemarau. Ini bakal membikin hujan lebih sedikit, seperti nan kita alami pada tahun ini," jelasnya.
"Mohon dipahami, jika El Nino itu 9-12 bulan bukan berfaedah kita bakal tandus selama 9-12 bulan, tidak. Musim Kemarau tetap bakal berjalan sampai kira-kira bulan Oktober. Saat Musim Hujan nanti, di bulan November dan seterusnya, kejadian El Nino tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi hujan di Indonesia," kata Faisal.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri RI) Foto: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani saat menyampaikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri RI)
(dce/dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·