Kepala BRIN Ungkap Permintaan Prabowo Soal BBM B100-E100 Buat RI

54 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengaku diminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengkaji akibat penerapan mandatori biodisel campuran 60% - 100% dari bahan nabati. Tak hanya itu, BRIN juga diminta mengkaji penerapan campuran bensin dan etanol sebesar 30% - 100%.

"Nah kemudian juga kembali soal daya tadi, kita diminta untuk mengkaji apa implikasi jika kita terapkan B60, apa implikasi jika kita terapkan B100, kemudian gimana jika E30 ya lantaran Brazil sudah sampai E100. Jadi BRIN diminta untuk mengkaji secara holistik policy mengenai dengan daya ini," kata Arif usai, pertemuan 150 peneliti BRIN dengan Presiden Prabowo Subianto, Kamis (6/8/2026).

Saat ini penerapan bensin campuran bahan nabati baru B50, untuk jenis solar. Sedangkan, untuk jenis bensin baru mencapai pencampuran 5% etanol ke dalam bensin.

Arif menjelaskan bahwa dari penemuan nan dipamerkan, presiden sangat tertarik dengan solusi persoalan sampah melalui Lahsamor alias perangkat pengolah sampah organik dan teknologi pirolisis, nan bisa menghasilkan sumber daya bagi nelayan.

"Teknologi ini sudah diterapkan di 80 titik. Kemudian juga ada teknologi PSEL nan skala besar 100 ton per day, ada juga nan 50 ton per day, dan ada banyak ragam teknologi sampah ini," katanya.

Di sektor energi, presiden juga disebut menyoroti teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) nan bisa menyimpan gas CNG dengan tekanan 30 bar dalam sebuah tabung. Arif menyatakan teknologi ini bisa menghemat finansial negara bisa mencapai Rp 26 triliun per tahun.

"Kalau ini diterapkan maka bisa menghemat Rp26 triliun per tahun mengenai dengan daya ini. Nah ini riset terus kita lakukan, ini sedang kita uji coba, minta doanya jika ini bisa kita kembangkan lebih jauh ini bakal menjadi revolusi daya di Indonesia," tuturnya.

Selain itu, presiden juga mencermati teknologi genteng nan ramah lingkungan secara mandiri. Dia menawarkan produk genteng BRIN nan berbasis pada limbah sawit, hingga kelapa.

Arif juga mengatakan dalam kesempatan itu, presiden juga menyoroti hasil produksi pesawat amfibi N-219 hasil pengembangan PTDI dan BRIN.

"Karena dengan pesawat amfibi maka tidak diperlukan investasi untuk runway, lantaran kita menggunakan air sebagai tempat pendaratan dan untuk landas terbang itu," tuturnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya