Peringatan alias wilujengan kholdalem ke-393 Sultan Agung di Keraton Surakarta diikuti sekitar 500 orang nan terdiri sentanadalem, abdidalem, dan masyarakat sekitar keraton.(Dok LDH Keraton Surakarta)
KARATON Surakarta Hadiningrat menggelar peringatan alias Wilujengan Kholdalem ke-393 Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo pada Sabtu Legi, 18 Juli 2026. Upacara budaya nan bertepatan dengan 2 Sapar Be Tahun Jawa 1960 ini dipusatkan di Bangsal Sewayana Sitihinggil Karaton Surakarta.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari, nan berkawan disapa Gusti Moeng, menjelaskan bahwa wilujengan ini merupakan tradisi rutin untuk mengenang jasa besar Sultan Agung. Selain sebagai corak penghormatan, ritual ini menjadi sarana memanjatkan angan kepada Allah SWT demi keselamatan bangsa, masyarakat, serta kelestarian budaya Jawa.
Prosesi dan Ubarampe Adat
Rangkaian prosesi dimulai dengan pengarakan ubarampe wilujengan dari Sasana Handrawina menuju Bangsal Sewayana Sitihinggil. Berbagai sesaji disiapkan sebagai simbol penghormatan, di antaranya damayu, suruh ayu, sego gurih lengkap, serta ingkung.
Setibanya di Sitihinggil, dilaksanakan prosesi ujub nan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, zikir, Syahadat Qures, serta Salawat Sultan Agungan. Rangkaian angan ini merupakan tata langkah baku dalam penyelenggaraan wilujengan bagi raja, family raja, maupun sentana dalem di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Upacara ini diikuti oleh sedikitnya 500 peserta nan terdiri dari abdi dalem, sentana dalem, dan masyarakat umum. Sesuai dengan ketentuan adat, para peserta mengenakan busana Jawi jangkep padintenan berwarna putih.
Momentum Pelestarian Budaya
Gusti Moeng menyebut bahwa penyelenggaraan haul tahun ini berjalan lebih sederhana dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena selama bulan Suro, pihak Keraton melaksanakan beragam agenda budaya dan kunjungan nan cukup padat.
"Kami berambisi Karaton Surakarta senantiasa mendapatkan penerangan nan lebih baik sehingga dapat terus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai sumber kebudayaan Jawa," ujar putri mendiang PB XII tersebut.
Istri dari KPH Eddy Wirabhumi ini juga menegaskan bahwa peringatan haul Sultan Agung adalah momentum krusial untuk memohon keberkahan agar Keraton tetap bisa menjalankan perannya sebagai pusat pelestarian budaya. Hingga saat ini, seluruh tata langkah budaya dan pakem budaya Keraton tetap menjadi pedoman bagi masyarakat Jawa dalam beragam upacara tradisi.
"Harapannya seluruh warisan budaya tersebut tetap lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang," pungkas Gusti Moeng. (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·