Kesebelasan Vs Kesatuan

1 hari yang lalu 3
Kesebelasan Vs Kesatuan Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SEPAK bol a modern akhirnya memberi­kan putusan nan susah dibantah. Di Stadion MetLife, New Jersey, Spanyol menga­lahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Satu gol Ferran Torres memang cu­kup untuk menentukan juara. Namun, pelajaran terbesar dari laga itu jauh melampaui nomor di papan skor. nan menang bukan sekadar Spanyol. nan menang adalah sebuah ‘kese­belasan’.

Spanyol datang tanpa dewa. Mereka tidak membawa seorang pemain nan kudu menyentuh bola setiap saat agar permainan hidup. Mereka tidak menggantungkan nasib kepada seorang ahli selamat. Sebaliknya, mereka membawa sebelas pemain nan saling memercayai, saling menutupi, dan saling menghidupkan.

Ketika bek menguasai bola, gelandang telah membuka ruang. Ketika gelandang di­tekan, penyerang turun mem­bantu. Saat bola hilang, seluruh pemain bergerak serempak merebutnya kembali. Me­reka menyerang sebagai satu irama dan memperkuat sebagai satu napas.

Tidak ada mentari nan terlalu terang hingga mem­buat bintang-bintang lain kehilangan cahaya. Lihatlah Pau Cubarsi, Rodri, alias Pedro Porro, nan tak kalah terang daripada Lamine Yamal dan Dani Olmo. Begitulah memang mestinya kesebelasan bekerja.

Argentina justru datang de­ngan cerita berbeda. Mereka tetap mempunyai Lionel Messi, pemain nan mungkin terbe­sar dalam sejarah sepak bola. Bahkan, di usia nan tak lagi muda, Messi tetap bisa mengubah arah pertandingan hanya dengan satu sentuhan. Ia tetap menjadi pusat gravitasi permainan Albiceleste.

Namun, justru di situlah paradoks itu lahir. Terlalu ba­nyak keputusan permainan bermuara kepada Messi. Ter­lalu banyak angan berhujung di kakinya. Ketika setiap se­rangan mencari satu orang, musuh hanya perlu memutus satu simpul untuk melum­puhkan seluruh jalinan. Ke­sebelasan Spanyol melawan kesatuan Argentina.

Kesatuan memang mempunyai pemimpin, tetapi belum tentu mempunyai pengedaran kekuatan. Kesatuan bisa sangat solid secara emosional, tetapi be­lum tentu elastis secara taktis. Kesatuan sering kali bertumpu pada satu poros. Ketika poros itu dipatahkan, seluruh gedung ikut berguncang.

Sebaliknya, kesebelasan ti­dak mengenal pusat tunggal. Ia mengenal jejaring. Ia tidak dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh hubungan an­tarpemain. Kekuatannya lahir dari koordinasi, bukan kultus individu. Kehilangannya ditu­tupi bersama. Keunggulannya dibagi rata.

Di situlah sepak bola modern bergerak. Permainan hari ini menuntut kecepatan berpikir nan sama cepatnya dengan kecepatan berlari. Menun­tut perpindahan posisi nan cair. Menuntut setiap pemain bisa menjadi penyerang sekaligus bek, pembuat seka­ligus pekerja. Dalam bumi seperti itu, ketergantungan kepada satu sosok bukan lagi kelebihan. Ia justru menjadi titik lemah.

Karena itu, kemenangan Spanyol terasa seperti penegasan sebuah zaman. Bahwa era kesebelasan telah meng­gantikan era ‘kesatuan’. Era jaringan telah mengalahkan era pusat. Era kolektivitas mengungguli era individuali­tas. Pelajaran itu sesungguh­nya melampaui lapangan hijau.

Organisasi nan menggan­tungkan diri pada satu orang bakal rentan ketika orang ter­sebut pergi. Perusahaan nan hanya mempunyai satu ahli filsafat bakal kehilangan arah ketika ahli filsafat itu berhenti. Bangsa nan terlalu mengandalkan seorang tokoh bakal gamang setiap kali sang tokoh turun panggung.

Sebaliknya, bangsa nan membangun sistem, mem­bagi peran, menumbuhkan pemimpin di setiap lini, dan memperkuat kerja sama bakal jauh lebih tahan menghadapi perubahan zaman.

Piala Dunia 2026 telah meng­ingatkan kita bahwa keme­nangan tidak selalu lahir dari pemain terbaik. Kemenangan sering kali lahir dari tim ter­baik. Dan sejarah, berkali-kali, berpihak kepada mereka nan memilih menjadi ‘kesebelasan’, bukan sekadar ‘kesatuan’.

Selengkapnya