Ilustrasi(ANTARA/M Agung Rajasa)
OLAHRAGA padel sekarang semakin digemari. Namun, karakter permainannya nan bergerak menyimpan akibat cedera jika tidak dilakukan dengan persiapan nan matang. Dokter ahli kedokteran olahraga menekankan pentingnya pertimbangan kondisi bentuk sebagai langkah utama untuk menjaga performa sekaligus meminimalkan akibat cedera.
Dalam keterangan pers, Senin (20/7/2026), dr. Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.KO dari Seraphim Medical Center menjelaskan bahwa padel menuntut tubuh untuk bergerak cepat, melakukan rotasi, berakhir mendadak, serta beranjak arah secara berulang kali. Kondisi ini memberikan beban besar pada bentuk pemain.
"Karena itu, atlet memerlukan pertimbangan kondisi fisik, latihan nan tepat, strategi recovery, serta pemantauan nan sesuai agar dapat menjaga performa sekaligus mengurangi akibat cedera," ujar dr. Nahum.
Pentingnya Evaluasi dan Latihan Terukur
Menurut dr. Nahum, penilaian kondisi bentuk sebaiknya dilakukan secara berkala, baik sebelum memulai program latihan maupun sebelum bertanding. Penilaian ini berfaedah untuk menentukan program latihan nan dipersonalisasi sesuai keahlian dan kebutuhan masing-masing individu.
Ia juga mengingatkan para pemain agar tidak hanya mengejar intensitas latihan semata. Performa nan optimal semestinya dibangun melalui program nan terukur dan sesuai dengan kapabilitas bentuk guna menekan akibat cedera.
| Evaluasi Fisik | Menentukan program latihan nan sesuai keahlian individu. |
| Strategi Pemulihan | Menyiapkan tubuh untuk sesi latihan alias pertandingan berikutnya. |
| Pemantauan Berkala | Memastikan program latihan tetap kondusif dan efektif. |
| Rehabilitasi Bertahap | Mengembalikan kegunaan mobilitas dan kontrol tubuh pasca-cedera. |
Penanganan Cedera dan Proses Kembali Berolahraga
Bagi pemain nan sudah terlanjur mengalami cedera, dr. Herryanto Agustriadi Simanjuntak, M.H.Kes., Sp.OT, Subsp. CO, master ahli ortopedi dan traumatologi dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, menyatakan bahwa pemeriksaan nan jeli sangat krusial.
Penanganan cedera disesuaikan dengan tingkat keparahannya.
"Sebagian dapat ditangani secara konservatif melalui obat-obatan, fisioterapi, dan rehabilitasi. Namun, pada kondisi tertentu, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk memperbaiki struktur nan rusak," jelas dr. Herryanto.
Ia menambahkan bahwa penanganan nan tepat sejak awal hingga proses rehabilitasi sangat krusial agar pemain bisa kembali berolahraga dengan kondusif dan terhindar dari akibat cedera berulang.
Senada dengan perihal tersebut, dr. Nahum menekankan bahwa sebelum kembali ke lapangan, pemain kudu memastikan kekuatan, kegunaan gerak, dan kontrol tubuhnya telah pulih sepenuhnya secara bertahap. (Ant/Z-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·