Kim Jong Un Tiba-Tiba Beri Ultimatum Perang, Bentrokan Asia Bisa Pecah

59 menit yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Media pemerintah Korea Utara (KCNA) melontarkan kritik keras terhadap langkah Amerika Serikat (AS) nan memperluas struktur komando pasukan militer U.S. Forces Japan (USFJ). Pyongyang memperingatkan bahwa potensi bentrok militer di Semenanjung Korea sekarang bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan tinggal menunggu masalah waktu.

Mengutip laporan Reuters, Jumat (31/07/2026), tajuk rencana KCNA menilai penambahan personel markas besar USFJ membuktikan bahwa komando tersebut tengah diubah menjadi "komando perang" berskala penuh. Pyongyang menuduh Washington sedang mempersiapkan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) untuk terlibat dalam bentrok terbuka di area Asia-Pasifik.

Pernyataan dari media pemerintah tersebut diluncurkan menyusul pengakuan dari Komandan USFJ, Letnan Jenderal Stephen Jost, kepada surat berita Jepang Asahi. Jost mengonfirmasi bahwa jumlah staf di markas besar USFJ telah ditambah sebanyak 215 personel dibandingkan tahun lampau guna memperkuat kegunaan komando serta meningkatkan koordinasi dengan negara-negara sekutu AS.

KCNA menegaskan bahwa peningkatan kerja sama militer antara AS, Korea Selatan, dan Jepang belakangan ini telah memicu lonjakan ketegangan regional. Pihaknya memperkirakan bahwa unit pasukan USFJ bakal menjadi salah satu bala support pertama nan diterjunkan ke Semenanjung Korea jika bentrok bentuk betul-betul pecah.

"Petualangan militer Washington memperlihatkan ancaman nan makin nyata, nan pada akhirnya membenarkan langkah Korea Utara untuk terus mengembangkan kapabilitas nuklirnya sebagai sarana pencegah (deterrent)," tegas laporan tajuk rencana KCNA.

Tajuk rencana ini menjadi publikasi keempat nan dirilis KCNA sepanjang bulan ini untuk mengecam kebijakan militer AS, Jepang, dan Korea Selatan. Selain editorial media resmi, sejumlah pejabat tinggi Korea Utara juga berulang kali mengeluarkan pernyataan nan mengecam kerja sama militer bertiga tersebut serta menentang apa nan dipandang Pyongyang sebagai kebijakan berbeda dari sekutu.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya