ARTICLE AD BOX
Bupati Cianjur, Muhammad Wahyu Ferdian, menerima kehadiran PMI diduga korban TPPO di Ruang Garuda Pendopo Cianjur, Senin (13/7).(MI/Benny Bastiandy)
AI Juariah (48), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga jadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Libya. Warga Desa Karangwangi Kecamatan Ciranjang itu akhirnya bisa dipulangkan ke tanah air setelah videonya nan meminta support viral di media sosial.
Berdasarkan informasi, Ai berangkat bekerja ke Libya sebagai PMI pada 14 Maret 2025. Awalnya, dia ditawari rekannya bekerja di Arab Saudi.
Sebelumnya, Ai nan merupakan mantan pekerja migran sempat bekerja di Arab Saudi pada 2010. Rekannya mengiming-imingi Ai bisa mendapatkan fee (komisi) sebesar Rp7 juta dari pihak sponsor untuk bayar beragam kebutuhan manajemen sebelum pemberangkatan.
Ai sempat menolak tawaran itu lantaran diyakini tidak bakal mendapatkan izin dari suami. Namun, rekan Ai dan seorang sponsor dari Kabupaten Subang terus mendatanginya.
Tawaran itu bagi Ai jadi dilema. Di satu sisi dia tak diizinkan suami. Namun di sisi lain, Ai mempunyai beban kudu bayar utang sebesar Rp15 juta.
Di tengah dilema itu, Ai menjalani sesi wawancara dan medical check up dengan pihak sponsor. Hanya dalam waktu dua pekan usai wawancara dan medical check up, Ai kemudian mendapatkan paspor.
"Setelah itu saya mendapatkan agenda penerbangan. Cuma, awalnya kan saya bakal diberangkatkan ke Abu Dhabi. Tapi akhirnya diberangkatkannya ke Turki. Saya sempat menolak. Tapi katanya jika tidak jadi berangkat saya kena denda nan kudu dibayar," kata Ai di Ruang Garuda Pendopo Cianjur, Senin (13/7).
Singkat cerita, Ai pun berangkat berbareng empat PMI lainnya. Jadwal penerbangan pun dilakukan di Bandara Internasional Juanda di Surabaya.
"Penerbangannya ke Abu Dhabi dulu. Transit satu hari, kemudian terbang lagi ke Singapura lampau ke Istanbul (Turki), langsung ke Libya," tuturnya.
Selama nyaris 1 tahun 4 bulan di Libya, Ai mengaku berpindah-pindah majikan. Selama berpindah-pindah majikan, Ai sempat mengalami kekerasan dan disekap selama beberapa hari.
"Kalau dihitung saya beranjak 9 kali majikan. Di majikan nan ke 9 ini saya memperkuat nyaris setahun," tuturnya.
Di majikannya nan terakhir, Ai kudu mengurus tiga rumah dengan jarak nan cukup jauh. Ai pun mengaku kacapekan hingga akhirnya dia sempat terjatuh dan mengalami luka.
Ai pun kemudian mengunggah video nan disebarkan di media sosial. Ia meminta support agar bisa pulang ke tanah air.
Pemkab Cianjur berbareng Polres Cianjur berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Mereka meminta support proses pemulangan Ai ke Cianjur.
Upaya itu berhasil. Ai akhirnya bisa kembali ke Indonesia.
"Kami mengucapkan terima kasih banyak ke seluruh pihak nan telah membantu kepulangan ibu Ai, terutama Kementerian P2MI, Polres Cianjur, Pemprov Jabar melalui dinas terkait, serta Kementerian Luar Negeri dan KBRI di Libya," ujar Bupati Cianjur, Muhammad Wahyu Ferdian.
Menurut Wahyu, proses pemulangan PMI ini memerlukan perhatian khusus. Sebab, PMI tersebut berada di wilayah nan tengah berkonflik.
"Tapi alhamdulillah, dengan kerja sama seluruh pihak, ibu Ai bisa kembali dengan selamat dan sehat," pungkasnya. (BB)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·