Kolaborasi Industri–Kampus Menjadi Fondasi Daya Saing Indonesia di Era Industri 5.0

4 hari yang lalu 10
Kolaborasi Industri–Kampus Menjadi Fondasi Daya Saing Indonesia di Era Industri 5.0 Ilustrasi(Dok Istimewa)

TRANSFORMASI menuju Industri 5.0 menuntut perubahan mendasar dalam hubungan antara bumi pendidikan dan bumi usaha. Kemitraan antara kampus dan industri tidak boleh lagi berakhir pada penandatanganan nota kesepahaman alias penyelenggaraan aktivitas seremonial. Kolaborasi kudu diwujudkan dalam corak penyusunan kurikulum bersama, program magang nan berkualitas, riset terapan, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan training nan betul-betul menjawab kebutuhan industri.

Perkembangan teknologi, digitalisasi, kepintaran buatan (Artificial Intelligence), serta tuntutan menuju industri hijau telah mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja secara cepat. Kondisi tersebut menyebabkan banyak perusahaan mengalami kesenjangan antara keahlian nan dibutuhkan dengan kompetensi nan dimiliki oleh tenaga kerja nan tersedia. Akibatnya, produktivitas, inovasi, dan kecepatan transformasi industri menjadi terhambat.

Kajian akademik internasional mengenai strategi menjembatani kesenjangan keahlian menegaskan bahwa kemitraan multipihak merupakan pendekatan paling efektif dalam mengatasi persoalan tersebut. Kolaborasi nan melibatkan bumi usaha, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga pelatihan, peneliti, dan asosiasi industri terbukti bisa menghasilkan sistem pengembangan talenta nan lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar.

Dalam keterangan nan diterima  hari ini menyebut memandang kebutuhan tersebut, TITAN Corporation, HIPPI Jakarta Selatan, dan Universitas Paramadina menginisiasi sebuah kerjasama strategis sebagai model sinergi antara bumi industri, organisasi pengusaha, dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem pengembangan sumber daya manusia melalui penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri, penyelenggaraan program magang berbasis proyek nyata, riset terapan, kuliah praktisi, pengembangan sertifikasi kompetensi, hingga pembuatan ruang penemuan nan mempertemukan mahasiswa, akademisi, dan pelaku usaha.

Inisiatif tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan nan lebih siap memasuki bumi kerja, tetapi juga melahirkan penemuan nan bisa menjawab tantangan transformasi industri nasional, khususnya pada sektor manufaktur, teknologi industri, energi, industri hijau, dan digitalisasi.

Menurut Peter Rusli, CEO TITAN Corporation, Ketua Dewan Pembina HIPPI Jakarta Selatan, sekaligus Praktisi Industri, Indonesia mempunyai kesempatan besar untuk menjadi salah satu kekuatan industri bumi pada 2045. Namun, kesempatan tersebut hanya dapat diwujudkan andaikan bumi pendidikan dan bumi industri melangkah sebagai mitra strategis nan saling membangun.

"Industri tidak bisa lagi hanya menjadi pengguna lulusan. Industri kudu menjadi co-creator dalam membentuk kompetensi masa depan Indonesia."kata Peter

Peter menjelaskan bahwa perusahaan perlu terlibat sejak awal dalam proses pembentukan kompetensi, mulai dari memberikan masukan terhadap kurikulum, membuka akses magang nan memberikan pengalaman nyata, mendukung riset berbasis kebutuhan industri, hingga menghadirkan praktisi sebagai bagian dari proses pembelajaran di perguruan tinggi.

"Kolaborasi antara TITAN Corporation, HIPPI Jakarta Selatan, dan Universitas Paramadina merupakan contoh gimana bumi industri, organisasi pengusaha, dan perguruan tinggi dapat melangkah dalam satu ekosistem nan saling memperkuat. Pendidikan kudu menghasilkan talenta nan relevan, sementara industri kudu aktif membentuk kompetensi tersebut sejak proses pembelajaran berlangsung."

Sebagai perusahaan nan bergerak di bagian solusi industri, teknologi, engineering, maintenance, kalibrasi, dan transformasi industri, TITAN Corporation membawa pengalaman nyata dari beragam sektor strategis nasional ke dalam lingkungan akademik. Di sisi lain, HIPPI Jakarta Selatan berkedudukan sebagai jembatan nan menghubungkan kebutuhan bumi usaha, pelaku UMKM, dan jaringan industri dengan lembaga pendidikan sehingga kerjasama nan dibangun mempunyai akibat langsung terhadap peningkatan daya saing bumi upaya nasional.

Mitra Strategis

Universitas Paramadina sendiri menjadi mitra strategis dalam mengembangkan pendekatan pendidikan nan adaptif terhadap perubahan era melalui penguatan kompetensi digital, kepemimpinan, kewirausahaan, inovasi, keberlanjutan (sustainability), serta keahlian berpikir kritis nan menjadi kebutuhan utama industri masa depan.

"Keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya lulusan perguruan tinggi, tetapi oleh seberapa besar lulusan tersebut bisa menciptakan nilai tambah bagi industri, masyarakat, dan perekonomian nasional."

Peter menambahkan bahwa keberhasilan transformasi industri nasional tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan nan mendorong kolaborasi, bumi upaya kudu membuka ruang pembelajaran nan lebih luas, organisasi pengusaha perlu memperluas jejaring dan kesempatan berkolaborasi, sementara lembaga pendidikan kudu terus memperbarui kurikulum sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.

"Indonesia Emas 2045 memerlukan SDM kelas dunia. Untuk mewujudkannya, kampus, industri, dan organisasi pengusaha kudu berakhir melangkah sendiri-sendiri. Saatnya membangun ekosistem kerjasama nan melahirkan inovasi, meningkatkan produktivitas, serta mencetak pemimpin industri masa depan."

Kolaborasi

Memasuki era Industri 5.0, kerjasama antara TITAN Corporation, HIPPI Jakarta Selatan, dan Universitas Paramadina diharapkan menjadi model kemitraan nan dapat direplikasi oleh beragam lembaga pendidikan dan pelaku industri di Indonesia. Dengan menghubungkan pendidikan, riset, inovasi, dan kebutuhan bumi upaya secara berkelanjutan, Indonesia bakal mempunyai sumber daya manusia nan lebih adaptif, kompetitif, dan siap memperkuat posisi bangsa sebagai negara industri nan tangguh, inovatif, serta berkekuatan saing menuju Indonesia Emas 2045.

Selengkapnya