loading...
Witanti Prihatiningsih, Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi
Witanti Prihatiningsih
Dosen Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Jakarta
APAKAH ada nilai moral nan bertindak bagi seluruh umat manusia, terlepas dari perbedaan budaya, agama, maupun sistem politik? Pertanyaan tersebut telah lama menjadi perdebatan di ranah makulat dan etika, dan dalam disiplin pengetahuan komunikasi, Profesor Clifford G. Christians dari University of Illinois menjawabnya melalui konsep proto-norm, ialah nilai-nilai moral paling mendasar sebagai fondasi komunikasi nan etis.
Bagi Christians, salah satu nilai nan berkarakter universal adalah Sacredness of Life, kepercayaan bahwa setiap kehidupan manusia mempunyai martabat nan layak dihormati.
Memasuki era media sosial, ketika kata-kata dapat diketik dan disebarkan dalam hitungan detik, prinsip nan tampak sederhana itu justru semakin sering diuji. Penghormatan terhadap martabat manusia, di tengah derasnya arus percakapan digital, kerap terkikis oleh budaya berkomentar nan serba spontan.
Belum lama ini, seorang wanita lanjut usia nan tengah melakukan siaran langsung untuk berdagang di media sosial, menjadi sasaran beragam komentar bersuara menghina. Di antara ratusan komentar nan melintas, salah satu nan paling menyita perhatian berbunyi, "Nenek kapan mati?"
Ujaran tersebut bukan sekadar contoh rendahnya kesantunan berkata di internet. Dari perspektif etika komunikasi, kalimat itu mencerminkan bergesernya komunikasi dari ruang pertukaran pendapat menjadi ruang nan mengabaikan nilai dasar kemanusiaan nan semestinya dihormati dalam setiap interaksi.
Dalam kerangka Sacredness of Life, komunikasi tidak pernah sekadar memindahkan info dari satu pihak kepada pihak lain. Setiap kata nan diucapkan juga membawa akibat moral lantaran selalu ditujukan kepada sesama manusia nan mempunyai martabat.
Ketika komunikasi justru merendahkan nilai kehidupan alias memperlakukan seseorang seolah tidak layak dihargai, tindakan tersebut tidak lagi sekadar tidak sopan. Melainkan telah melanggar prinsip etika nan paling fundamental.
Komentar seperti "Nenek kapan mati?" menjadi contoh nan jelas. Kalimat itu tidak sedang membahas produk nan dijual, kualitas siaran langsung, ataupun perilaku penjualnya. nan diserang justru keberadaan orang tersebut sebagai manusia.
Pandangan serupa dapat ditemukan dalam pemikiran Richard L. Johannesen, guru besar pengetahuan komunikasi dari Northern Illinois University, nan selama puluhan tahun mengembangkan kajian etika komunikasi. Johannesen berpandangan bahwa komunikasi nan etis semestinya mendukung keahlian perseorangan untuk berpikir, berargumentasi, dan membikin pilihan secara bebas dan bertanggung jawab.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·