Lakshmi Narayanan dari Patel Family Office, Marc Gunderson dari MWG Enterprises, Abdulmalik Alqahtani dari AHQ Group.(The Telegraph)
SEORANG taipan minyak asal Texas, Amerika Serikat, tengah merancang proyek pembangunan kilang minyak senilai US$5 miliar alias sekitar Rp80 triliun. Langkah strategis ini diambil guna menghindari blokade Iran di Selat Hormuz nan selama ini menjadi jalur vital perdagangan daya dunia.
Marc Gunderson, pendiri MWG Enterprises, menjalin kerja sama dengan dua biaya investasi Timur Tengah untuk mengembangkan terminal baru tersebut. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan ekspor minyak dari Teluk Persia terhadap jalur nan dikendalikan oleh Iran.
Lokasi Strategis di Luar Selat Hormuz
Tiga letak potensial di Teluk Oman dipilih sebagai kandidat tempat pembangunan kilang. Dengan posisi di luar Selat Hormuz, kapal-kapal tanker nan menggunakan akomodasi ini tidak perlu lagi melewati jalur sempit nan kerap menjadi titik bentrok tersebut.
Rencana itu muncul di tengah ketegangan nan meningkat setelah Iran secara efektif menutup rute perdagangan utama tersebut menyusul serangan udara AS dan Israel pada Februari lalu. Penutupan ini memicu lonjakan nilai minyak dan gas global. Pada Rabu waktu setempat, nilai minyak naik 4% menjadi US$88 per barel akibat eskalasi bentrok di kawasan.
Kolaborasi Mera Oil dan Jangkauan GCC
Proyek kilang minyak ini dikembangkan oleh Mera Oil, perusahaan patungan (joint venture) antara MWG milik Gunderson dengan AHQ dari Arab Saudi serta Patel Family Office. Meski letak resmi belum diumumkan, kandidat kuat mencakup Fujairah di Emirat Arab alias Sohar di Oman.
Kedua negara tersebut merupakan personil Dewan Kerja Sama Teluk (GCC). Fasilitas itu nanti dirancang sebagai pusat ekspor bagi seluruh personil GCC, termasuk Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Dengan kapabilitas pemurnian sekitar 200.000 barel per hari, akomodasi ini juga bakal berfaedah sebagai terminal ekspor minyak mentah guna menjamin pasokan ke pembeli di Asia dan Eropa saat terjadi bentrok regional.
Pernyataan Marc Gunderson:
"Kemitraan sponsor telah terbentuk, konsep pengembangan dan strategi modal telah ditetapkan, dan sekarang kami sedang memilih tuan rumah. Wilayah nan bergerak tegas berbareng kami dalam beberapa bulan mendatang bakal mengamankan platform hilir, penyimpanan, dan ekspor daya baru nan besar."
Eskalasi Konflik di Kawasan
Situasi keamanan di Timur Tengah terus memanas setelah AS dan Arab Saudi meluncurkan serangan terhadap kelompok-kelompok nan didukung Iran di Irak pada Rabu (29/7). Serangan tersebut merupakan jawaban atas serangan pesawat tak berawak terhadap akomodasi minyak Saudi.
Di sisi lain, Teheran menolak usulan Oman untuk pengelolaan berbareng Selat Hormuz secara regional. Penolakan ini memupus angan bakal resolusi diplomatik atas kebuntuan jalur perdagangan nan telah terganggu selama berbulan-bulan.
Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, mencatat bahwa serangan militer nan berulang dan penegasan Iran untuk mengendalikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus memberikan tekanan ke atas pada harga minyak dunia. (The Telegraph/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·