Ilustrasi.(Magnific)
PEMERINTAH Iran sekarang berada di periode keputusan politik nan sangat sensitif mengenai perubahan nilai bahan bakar minyak (BBM). Langkah ini diambil saat Teheran berjuang mengatasi kesenjangan nan kian lebar antara produksi bahan bakar domestik dan konsumsi, nan diperparah oleh bentrok berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS).
Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menyatakan pada 25 Juli bahwa perubahan nilai bahan bakar alias kebijakan penjatahan merupakan hal nan pasti dan tidak dapat dihindari. Meski demikian, otoritas setempat belum mengonfirmasi apakah respons tersebut bakal berupa kuota baru, kenaikan harga, alias kombinasi keduanya.
Dilema Subsidi dan Daya Beli
Saat ini, Iran menerapkan sistem nilai bahan bakar bersubsidi bertingkat. Kuota bulanan berkisar dari 1.500 toman (sekitar Rp240) per liter pada tingkat terendah hingga 5.000 toman (sekitar Rp800) di tingkat atas. Laporan media lokal menyebut bahwa nilai tertinggi bisa melonjak hingga 10.000 toman (sekitar Rp1.600) per liter yang berfaedah kenaikan nyaris 100%.
Meski secara nominal nilai tersebut terlihat sangat murah dibandingkan standar global, daya beli masyarakat Iran merosot tajam akibat hukuman bertahun-tahun. Sebagai gambaran, bayaran minimum bulanan dasar pada tahun 2026 ditetapkan sekitar 16,6 juta toman alias hanya sekitar Rp1,4 juta. Kenaikan nilai BBM dipastikan bakal memukul telak ekonomi rumah tangga.
Konteks Sejarah: Kenaikan nilai bahan bakar nan mendadak pada November 2019 memicu protes nasional dan menjadi salah satu tindakan keras paling berdarah dalam sejarah Republik Islam tersebut.
Defisit Produksi di Tengah Perang
Iran menghadapi komplikasi tambahan lantaran konsumsi bensin sudah melampaui kapabilitas produksi apalagi sebelum bentrok dengan AS pecah pada Februari lalu. Kerusakan prasarana bahan bakar akibat serangan udara dan pembatasan impor membikin ketidakseimbangan ini semakin susah dikelola.
Umud Shokri, master strategi daya dari George Mason University, memperkirakan Iran memproduksi sekitar 121 juta liter bensin per hari, sementara konsumsi harian mencapai 129 juta liter. Defisit ini berkembang selama bertahun-tahun. Sejak 2019, penggunaan bensin meningkat 39 juta liter, tetapi kapasitas produksi hanya tumbuh 16 juta liter.
Risiko Sosial dan Ekonomi
Kritikus beranggapan bahwa bensin adalah kebutuhan pokok di Iran, sehingga kenaikan nilai tidak bakal secara signifikan meredam permintaan. Seorang penduduk Karaj menyatakan bahwa kenaikan nilai BBM bakal memicu reaksi berantai pada nilai peralatan dan jasa lain.
"Tekanan terbesar pada akhirnya bakal jatuh pada rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah," ujarnya. Tanpa kendaraan nan lebih efisien alias transportasi umum nan memadai, masyarakat tidak mempunyai pengganti selain menanggung biaya transportasi nan lebih tinggi.
Hambatan Impor dan Pasokan Global
Meskipun Iran mempunyai persediaan minyak mentah terbesar di dunia, kapabilitas kilang untuk memprosesnya menjadi bensin tetap terbatas. Sanksi internasional mempersulit pembayaran, pengiriman, dan asuransi untuk menutupi kekurangan melalui impor.
Rusia, nan merupakan sekutu politik dekat, juga menghadapi masalah produksi bensin sendiri akibat serangan terhadap kilang-kilang mereka. "Rusia mungkin secara politik bersedia membantu Iran, tetapi saat ini mereka mempunyai lebih sedikit bahan bakar nan tersedia untuk diekspor," kata Shokri.
Keputusan mengenai nilai BBM ini bukan sekadar kalkulasi ekonomi bagi pemerintah Iran, melainkan pertaruhan politik besar. Di tengah kemarahan publik atas biaya hidup dan penurunan daya beli, guncangan nilai bahan bakar dapat menjadi pemicu ketidakpuasan sosial nan lebih luas. (DW/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·