Ilustrasi.(Magnific)
PENDUDUK Kuwait, salah satu negara dengan suhu terpanas di dunia, sekarang terpaksa membatasi penggunaan pendingin udara (AC) di puncak musim panas. Langkah ini diambil setelah serangan udara Iran terhadap sejumlah pembangkit listrik menjadikan penghematan daya sebagai prioritas nasional nan mendesak.
Otoritas Kuwait menyerukan kepada publik untuk menekan konsumsi daya guna menjaga kesiapan listrik selama 24 jam, mengingat jaringan listrik nasional terus berada di bawah ancaman serangan Iran. Nasser Al-Dhafiri, seorang pegawai sipil berumur 40-an, menggambarkan ada tekanan psikologis nan luar biasa pada masyarakat umum seiring kekhawatiran bakal pemadaman listrik total.
Selama berminggu-minggu, penduduk di Kuwait dan Bahrain terbangun oleh bunyi sirene dan ledakan. Kedua negara tersebut menjadi sasaran utama Iran di area Teluk sejak runtuhnya gencatan senjata nan rentan antara Teheran dan Amerika Serikat.
Dampak pada Infrastruktur Vital
Konflik itu bermulai pada akhir Februari dengan serangan AS-Israel ke Iran, nan kemudian dibalas oleh Republik Islam tersebut dengan menyasar negara-negara Teluk. Dhafiri menyebut serangan harian ini diperparah oleh hantaman pada prasarana vital.
"Serangan terus-menerus terhadap pembangkit listrik menciptakan kekhawatiran dan kebingungan dalam kehidupan sehari-hari kami. Semua orang sekarang merasa bahwa menjaga jasa esensial adalah tanggung jawab bersama," ujar Dhafiri.
Pada Senin (20/7), Kuwait melaporkan bahwa Iran menghantam beberapa pembangkit listrik dan instalasi air, nan memicu kebakaran hebat. Ini merupakan serangan keempat dalam empat hari terakhir. Teheran sebelumnya menyatakan bahwa mereka menargetkan aset-aset AS nan berada di negara tersebut.
Di area Teluk, sebagian besar instalasi desalinasi air terintegrasi dengan akomodasi produksi listrik lantaran prosesnya memerlukan input daya nan sangat besar. David Michel, seorang master ketahanan air dan pangan, mencatat bahwa pasokan air bersih dapat terganggu bukan hanya oleh serangan langsung pada unit pengolahan air, tetapi juga pada jaringan listrik nan menyokongnya. "Putuskan air dengan memutus aliran listrik," tulisnya.
Trauma Masa Lalu dan Solidaritas Warga
Serangan ini semakin membebani jaringan listrik Kuwait nan sebelumnya sukses memperkuat dari invasi Irak tahun 1990 serta gelombang serangan Iran awal tahun ini. "Menghemat listrik berfaedah menjaga sumber daya bangsa. Kita tidak boleh membebani jaringan listrik dengan penggunaan nan tidak perlu," kata Abdulrahman Al-Azmi, seorang penduduk berumur 60-an.
Meskipun Kuwait merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di OPEC, negara ini secara rutin kesulitan memenuhi permintaan domestik, terutama saat musim panas ketika suhu melampaui 50 derajat celsius. Pada musim panas 2024, pemerintah sempat mengumumkan pemadaman listrik sementara di beberapa wilayah akibat lonjakan permintaan saat cuaca ekstrem.
Kini, penduduk mulai mengambil inisiatif mandiri. Khaled Al-Badri, penduduk berumur 50-an, mengaku mulai mematikan AC sebelum meninggalkan rumah dan memadamkan lampu luar ruangan. "Setiap orang bisa berkontribusi untuk membantu kita melewati periode ini," katanya kepada AFP.
Bagi banyak penduduk seperti Dhafiri, situasi ini membangkitkan memori kelam invasi Irak 1991 saat pasukan Irak membakar ratusan sumur minyak saat mundur. Namun, dia merasa tekanan saat ini berbeda. "Apa nan dialami Kuwait hari ini adalah sesuatu nan tidak kami rasakan apalagi saat invasi Irak, dalam perihal tekanan psikologis dan ketidakpastian arah peristiwa ini," tuturnya.
Pemerintah Kuwait saat ini berupaya keras mencegah gangguan listrik menjadi sistemik. Juru bicara kementerian kelistrikan, Fatima Hayat, memuji respons luas dari masyarakat nan membantu menurunkan konsumsi listrik di bawah tingkat nan diproyeksikan, sehingga stabilitas jasa tetap terjaga di tengah fase nan menantang ini. (I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·