Krisis Pangan di Desa Terpencil Venezuela setelah Gempa Dahsyat

3 hari yang lalu 11
Krisis Pangan di Desa Terpencil Venezuela setelah Gempa Dahsyat Warga Venezuela.(Al Jazeera)

KONVOI truk Program Pangan Dunia (WFP) perlahan menanjak di jalanan berliku sepanjang pesisir Venezuela, meninggalkan kota Catia La Mar nan luluh lantak akibat gempa. Tujuan mereka adalah Chichiriviche de la Costa, desa terpencil nan meski secara bentuk relatif utuh dari musibah kembar pada 24 Juni lalu, sekarang terisolasi dan kehabisan sumber daya.

Medan nan berat dengan tanjakan curam, tikungan tajam, dan jalanan nan belum diaspal memperparah penderitaan desa wisata ini. Wisatawan berakhir berkunjung, sementara penjualan ikan terhenti total. Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 nan mengguncang negara bagian pesisir La Guaira tersebut menewaskan sedikitnya 5.069 orang dan menghancurkan ratusan bangunan.

Populasi Chichiriviche nan berjumlah sekitar 2.000 jiwa sempat menerima support kemanusiaan dari Belanda melalui helikopter sesaat setelah bencana. Pada Kamis (16/7) waktu setempat, WFP mulai mendistribusikan pasokan di alun-alun desa sebagai bagian dari program tiga bulan senilai US$80 juta.

"Puji Tuhan, tidak ada korban jiwa di sini, tapi kami mengalami kekurangan pasokan," ujar Andreina Liendo, 54. Sambil menggandeng putranya nan berumur empat tahun, dia menerima sekitar 50 kilogram support berupa beras, pasta, tepung, minyak, dan garam nan diharapkan cukup untuk satu bulan.

Kehilangan Mata Pencaharian

Koordinator darurat WFP, Marc-Andre Prost, menjelaskan bahwa konsentrasi utama saat ini adalah membantu organisasi melewati masa susah lantaran mereka tidak mempunyai pendapatan sama sekali. "Sangat krusial bagi kita untuk memperhatikan komunitas-komunitas terpencil ini pada hari-hari dan minggu-minggu pertama setelah gempa," ujarnya kepada AFP.

Kondisi ekonomi penduduk memang berada di titik nadir. Wilfrank Liendo, 40, nan bekerja sebagai petani, mengaku sangat cemas bakal masa depan. "Kami hidup dari pariwisata. Jika turis tidak datang, kami dalam masalah besar. Saya tidak punya pendapatan, tidak ada orang nan bisa membeli hasil tani kami," keluhnya.

Hal senada diungkapkan Adalberto Maypora, 70, seorang nelayan setempat. Meski para nelayan tetap melaut dan membagikan hasil tangkapan kepada penduduk serta pengungsi, mereka kesulitan mendapatkan duit tunai. "Tidak ada duit tunai. Jika turis tidak datang ke sini, kepada siapa kami kudu menjual ikan?" tuturnya.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Selain masalah pangan, kerusakan prasarana rumah juga menghantui warga. Leida Bello, 45, seorang pembersih, kudu membawa support pangannya sendiri ke rumah nan dindingnya retak dan sebagian telah runtuh. Ia mengaku tidak mempunyai biaya untuk melakukan perbaikan.

Ketakutan bakal gempa susulan juga tetap membekas. Margarita Mayora, 79, seorang janda nan tinggal berbareng lima orang lain, memilih tidur di teras lantaran trauma memandang retakan di langit-langit rumahnya.

WFP berencana menyediakan sekitar 500.000 ton makanan ke daerah-daerah terpencil dan tempat penampungan sementara di seluruh area gempa. Bagi penduduk Chichiriviche, support ini adalah napas buatan di tengah isolasi. "Kita kudu memperkuat hidup, mencari langkah untuk tetap hidup," pungkas Bello. (I-2)

Selengkapnya