Kuwait dan Bahrain Balas Serangan Drone Iran di Tengah Konflik Selat Hormuz

5 hari yang lalu 8
Kuwait dan Bahrain Balas Serangan Drone Iran di Tengah Konflik Selat Hormuz Ilustrasi.(Magnific)

KETEGANGAN di area Teluk kembali memuncak setelah Kuwait dan Bahrain melaporkan ada serangan udara baru dari Iran pada Kamis (16/7) waktu setempat. Serangan ini terjadi di tengah baku tembak antara Teheran dan Washington dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz nan strategis.

Militer Kuwait menyatakan bahwa mereka sedang merespons gelombang baru serangan pesawat nirawak (drone) dan secara terbuka menyalahkan agresi Iran. Seorang wartawan AFP di Kuwait City melaporkan terdengarnya bunyi ledakan di dekat ibu kota negara Teluk tersebut.

Sebelumnya pada hari nan sama, Kuwait dan kerajaan pulau Bahrain mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka menangani gelombang serangan Iran terdahulu. Sirene peringatan sempat terdengar meraung-raung di Manama, ibu kota Bahrain.

Target Serangan

Pihak Iran mengeklaim serangan tersebut menargetkan sejumlah titik strategis, antara lain:

  • Sistem radar dan pertahanan udara di pangkalan udara Ali al-Salem, Kuwait.
  • Fasilitas penyimpanan bahan bakar di pangkalan udara Ali al-Salem, Kuwait.
  • Instalasi militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Sheikh Isa, Bahrain.

Meskipun Iran berkilah hanya menyerang aset militer AS di area tersebut, baik Bahrain maupun Kuwait menuduh Republik Islam tersebut turut menargetkan lokasi-lokasi sipil.

Gagalnya Gencatan Senjata

Kedua negara Teluk itu menghadapi serangan berulang dari Iran sejak dimulai kembali permusuhan antara Washington dan Teheran pada 7 Juli lalu. Eskalasi ini sangat disayangkan mengingat ada kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari pada Juni, nan semula diharapkan dapat mengakhiri perang secara permanen dan membuka kembali Selat Hormuz.

Saat ini, tingkat permusuhan mencapai level nan belum pernah terlihat sejak gencatan senjata 8 April. Pertempuran terbaru ini dipicu oleh tindakan Iran nan menargetkan kapal-kapal nan melintasi Selat Hormuz, jalur air vital bagi ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk. (AFP/I-2)

Selengkapnya