Layanan inklusif KAI(Dok. KAI)
TRANSFORMASI jasa PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias KAI tidak lagi hanya berfokus pada kecepatan dan ketepatan waktu perjalanan. Penyediaan akses bagi penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, perempuan, dan golongan berkebutuhan unik sekarang menjadi salah satu parameter peningkatan kualitas transportasi publik nasional.
Akademisi sekaligus Pengamat Transportasi Darat, Djoko Setijowarno, menilai kualitas jasa transportasi publik Indonesia, termasuk jasa kereta api, telah bisa bersaing dengan sejumlah negara maju.
Menurutnya, penemuan jasa menjadi komponen krusial dalam pengembangan transportasi publik. Namun, kemajuan tersebut tidak cukup hanya ditandai oleh penggunaan teknologi maupun modernisasi sarana. Kemampuan operator menyediakan jasa nan inklusif juga menjadi tolok ukur penting.
“Jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju, jasa transportasi publik Indonesia sudah bisa bersaing. Pengalaman studi banding ke luar negeri juga memperlihatkan bahwa Indonesia bisa menghadirkan standar jasa nan kompetitif,” kata Djoko dilansir dari podcast Menilik Transformasi Pelayanan Kereta Api di Indonesia. Sudah Setara Global! di Marketeers TV, Jumat (17/5).
Ia mengakatan, komitmen terhadap jasa inklusif diwujudkan KAI melalui penyediaan sejumlah akomodasi di stasiun dan dalam perjalanan. Fasilitas tersebut antara lain guiding block, portable ramp, bangku roda, toilet ramah penyandang disabilitas, serta ruang laktasi.
KAI juga membekali petugas dengan training untuk membantu dan mendampingi pengguna berkebutuhan khusus. Pendampingan tersebut menjadi bagian krusial dalam memastikan seluruh pengguna dapat mengakses jasa kereta api secara aman, nyaman, dan setara.
Upaya ini, kata dia, menunjukkan bahwa pengalaman pengguna atau customer experience tidak hanya dibangun melalui kecepatan pelayanan. Pengalaman perjalanan juga ditentukan oleh kemudahan pengguna ketika memasuki stasiun, menggunakan fasilitas, menaiki kereta, hingga tiba di tujuan.
Travel Content Creator, Taufik Effendi, nan telah mencoba jasa kereta api di 24 negara, menyebut pengalaman selama perjalanan sekarang menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih moda transportasi.
Penumpang, menurut Taufik, tidak lagi hanya berorientasi pada tujuan akhir. Mereka juga memperhatikan pelayanan petugas, kenyamanan kabin, akomodasi pendukung, makanan, pemandangan, serta rasa kondusif selama berada di dalam kereta.
“Banyak nan bisa dinikmati selama perjalanan. Orang sekarang bukan hanya memandang tujuan akhirnya, tetapi juga menikmati pengalaman selama berada di kereta. Hal-hal seperti pelayanan, kenyamanan, hingga akomodasi pendukung menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri,” ujar Taufik dalam podcast Kenapa Video Naik Kereta Bisa Ditonton Jutaan Orang? Rahasia Storytelling Travel Content di Marketeers TV.
Ia menilai, peningkatan akses bagi golongan berkebutuhan unik juga mempunyai nilai lebih dari sekadar pemenuhan standar pelayanan. Fasilitas tersebut menjadi corak pengakuan bahwa setiap pengguna mempunyai kewenangan nan sama untuk menikmati transportasi publik.
Karena itu, lanjut dia, kualitas transformasi KAI tidak hanya dapat dilihat dari modernisasi sistem tiket, pembaruan kereta, maupun peningkatan kecepatan layanan. Kemajuan juga tercermin dari keahlian perusahaan merespons kebutuhan pengguna nan beragam.
Pendekatan tersebut membikin jasa transportasi publik menjadi lebih relevan bagi masyarakat. Pelanggan bukan sekadar diantarkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga memperoleh kepastian bahwa kebutuhan mereka diperhatikan selama perjalanan.
Dengan penguatan jasa nan semakin inklusif, transformasi KAI menunjukkan bahwa pengembangan transportasi publik tidak hanya mengejar efisiensi operasional. Kesetaraan akses dan kenyamanan seluruh pengguna sekarang menjadi bagian krusial dalam membangun jasa kereta api nan berkekuatan saing global. (Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·