Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasruddin (baju merah) dan Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh (ketiga dari kanan).(Dok PAM Jaya)
KOMISI B DPRD DKI Jakarta menegaskan persoalan Non-Revenue Water (NRW) alias kehilangan air tidak hanya disebabkan kebocoran pipa. Ada tiga komponen penyebab NRW nan kudu ditangani secara berbarengan agar sasaran penurunan kehilangan air PAM Jaya dapat tercapai.
Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh mengatakan, berasas penjelasan PAM Jaya, NRW terdiri atas konsumsi resmi tak berrekening (unbilled authorized consumption), kehilangan komersial (commercial loss), dan kehilangan bentuk (physical loss).
“Selama ini masyarakat menganggap NRW hanya kebocoran pipa. Ternyata ada tiga komponen nan menjadi penyebab kehilangan air dan semuanya kudu diselesaikan,” kata Nova melalui keterangannya, Rabu (29/5).
Menurutnya, upaya menekan NRW tidak cukup hanya mengganti jaringan pipa. PAM Jaya juga kudu memperluas sambungan rumah agar air nan sudah diproduksi tersalurkan ke pengguna dan tidak menjadi kehilangan air.
“Jangan sampai air sudah mengalir di jaringan tetapi belum tersambung ke rumah-rumah warga. Itu juga kudu menjadi perhatian,” ujarnya.
Nova menambahkan, Komisi B mendukung langkah PAM Jaya nan menyiapkan peremajaan sekitar 13.000 kilometer jaringan pipa melalui skema market sounding. Menurutnya, strategi tersebut merupakan bagian dari upaya menyelesaikan seluruh komponen penyebab NRW, bukan hanya kebocoran fisik.
Sementara, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan penurunan NRW menjadi program prioritas perusahaan. Salah satu langkah nan disiapkan adalah market sounding pada Desember 2026 untuk menjajaki investasi penggantian jaringan pipa senilai sekitar Rp22,8 triliun melalui skema business to business (B2B).
“Seluruh kalkulasi investasi kudu dilakukan secara hati-hati agar program penurunan NRW melangkah efektif dan berkelanjutan,” kata Arief. (E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·