Lestari Moerdijat: Wujudkan Lingkungan Pendidikan Aman Butuh Komitmen Nyata

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
 Wujudkan Lingkungan Pendidikan Aman Butuh Komitmen Nyata Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat.(MI/Susanto)

UPAYA mewujudkan lingkungan pendidikan nan kondusif dan nyaman memerlukan komitmen dan langkah nyata dari sejumlah pihak terkait. 

"Suatu aktivitas untuk mewujudkan lingkungan pendidikan nan kondusif dan nyaman kudu mendapat support penuh dari pihak-pihak nan terkait, termasuk dari family dan masyarakat," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/7). 

Pemerintah berupaya memperkuat kerjasama lintas sektor dalam mewujudkan pesantren dan madrasah nan ramah anak melalui peluncuran Gerakan Nasional #RuangAmanNyamanAnak (Gernas RANA) di Pesantren Al-Hamidiyah, Depok, pada  Minggu (12/7). 

Gerakan nan diluncurkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno, diharapkan bisa menghadirkan ekosistem pendidikan nan aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala corak kekerasan terhadap anak.

Gerakan ini menargetkan 42 ribu pondok pesantren dan 80 ribu madrasah di seluruh Indonesia untuk menerapkan lima pilar utama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan nan kondusif dan nyaman, ialah penguatan regulasi, pencegahan kekerasan, penyediaan sarana aman, jasa pengaduan berpihak korban, serta kerjasama lintas sektor.

Menurut Lestari, sejumlah langkah segera untuk mewujudkan sasaran nan dicanangkan tersebut kudu menjadi pemahaman dan komitmen berbareng para penyelenggara pendidikan, pengelola pondok pesantren dan madrasah, serta masyarakat. 

Rerie, sapaan berkawan Lestari, beranggapan bahwa upaya percepatan pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan bukan tanpa alasan. 

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, tambah Rerie, sepanjang 2025 terjadi 475 kasus kekerasan berbasis kelamin di lingkungan pendidikan dengan korban mencapai 972 orang. 

Khusus di lingkungan pesantren, Komnas Perempuan menerima laporan 17 kasus sepanjang 2020-2024.

Selain itu, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga mencatat tren peningkatan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, ialah 15 kasus pada 2023, meningkat menjadi 36 kasus pada 2024, dan melonjak menjadi 60 kasus sepanjang 2025

Rerie nan juga Anggota Komisi X DPR RI menilai, tantangan meningkatnya ancaman kekerasan itu kudu direspons dengan segera dalam corak langkah antisipasi nan tepat. 

Menurut Rerie, upaya mencegah perundungan di lingkungan pendidikan, misalnya, tidak cukup dengan sosialisasi antikekerasan semata. Harus diimbangi dengan upaya aktif membangun sikap dan budaya toleransi di sekolah dan masyarakat. 

Selain itu, jelas dia, upaya pencegahan tidak cukup hanya bertumpu pada kesiapan tenaga pendidik, tetapi juga memerlukan peran aktif masyarakat dan family dalam membentuk karakter anak sejak dini.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengapresiasi Gernas RANA nan diinisiasi pemerintah untuk mewujudkan lingkungan pendidikan nan kondusif dan nyaman bagi generasi penerus bangsa. 

Namun, tegas Rerie, keberhasilan aktivitas tersebut berjuntai pada komitmen kuat semua pihak untuk menjadikan perlindungan anak sebagai prioritas utama. (*/I-2)

Selengkapnya