Mahalnya Harga Stabilitas

3 jam yang lalu 3

loading...

Direktur Eksekutif Sigmaphi Indonesia/Analis Ekonomi Megawati Institute. Foto/Dok. SindoNews

Muhammad Islam
Direktur Eksekutif Sigmaphi Indonesia
Analis Ekonomi Megawati Institute

"Only when the tide goes out do you discover who's been swimming naked."
— Warren Buffett

SETIAP kali gejolak ekonomi muncul, pertanyaan nan nyaris selalu mengemuka adalah: apakah Indonesia sedang menuju krisis? Rupiah melemah, pasar saham terkoreksi, suku kembang naik, dan kekhawatiran pun bermunculan. Pertanyaan tersebut tentu tidak salah. Namun, ada pertanyaan lain nan jauh lebih penting: kenapa biaya nan kudu dibayar untuk menjaga stabilitas ekonomi terasa semakin mahal?

Dunia memang sedang berada dalam situasi nan tidak mudah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, suku kembang dunia nan tetap tinggi, dan fragmentasi perdagangan internasional telah menciptakan ketidakpastian nan besar. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi tersebut dengan sigap diterjemahkan menjadi tekanan terhadap nilai tukar, arus modal keluar, dan biaya pendanaan nan meningkat.

Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia memperlihatkan bahwa rupiah sempat menyentuh level sekitar Rp17.883 per dolar AS pada Mei 2026 apalagi mencapai Rp18.171 per dolar AS pada Juni 2026, dan menjadi salah satu mata duit dengan pelemahan terdalam di Asia tahun ini. Pada saat nan sama, Bank Indonesia kudu meningkatkan suku kembang referensi secara garang dari 4,75% pada April menjadi 5,25% pada Mei, lampau kembali menjadi 5,50% pada Juni dan 5,75% pada pertengahan Juni.

Beberapa kejadian tersebut menunjukkan bahwa stabilitas tetap dapat dijaga. Namun, stabilitas itu tidak datang tanpa biaya.

Cadangan devisa memberikan gambaran lainnya. Pada akhir Desember 2025, persediaan devisa Indonesia mencapai 156,5 miliar dolar AS. Pada Januari 2026 posisinya menjadi 154,6 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret, 146,2 miliar dolar AS pada April, dan 144,9 miliar dolar AS pada Mei. Pada Juni persediaan devisa kembali meningkat tipis menjadi 145,6 miliar dolar AS.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa pergerakan persediaan devisa tersebut antara lain dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar finansial global. Pada saat nan sama, menjaga daya tarik aset finansial domestik juga menjadi semakin penting.

Ketika akibat meningkat, penanammodal bakal meminta kompensasi nan lebih tinggi. Imbal hasil instrumen finansial rupiah kudu cukup menarik dibandingkan pengganti di negara lain.

Selengkapnya