ARTICLE AD BOX
Para panelis Genera-Z Berbakti 2026(BCA)
Persaingan di babak final Genera-Z Berbakti 2026 semakin ketat. Delapan tim mahasiswa dari beragam perguruan tinggi di Indonesia mempresentasikan pendapat terbaik mereka dalam program call for proposal nan diselenggarakan Bakti BCA, dengan menawarkan beragam solusi inovatif bagi pengembangan desa wisata.
Duta Bakti BCA nan juga menjadi panelis, Nicholas Saputra, menilai para finalis bisa menghadirkan ide-ide nan imajinatif sekaligus menyampaikan presentasi secara menarik. Menurutnya, sejumlah peserta apalagi memanfaatkan perangkat peraga untuk memperjelas konsep program nan bakal diterapkan di desa tujuan.
"Berbagai buahpikiran dan langkah presentasi finalis Genera-Z Berbakti 2026 cukup menarik. Bagi saya, perihal tersebut memantik rasa penasaran ihwal gimana nantinya penerapan program-program nan ditawarkan di lapangan. Kami para panelis percaya seluruh finalis Genera-Z Berbakti dapat menunaikan rencananya di letak selama bisa menjaga konsistensi dan beradaptasi dengan kondisi nan ditemui di desa tujuan," ujar Nicholas, dikutip dari keterangan resmi, Senin (13/7).
Salah satu sesi nan menyita perhatian mempertemukan tim Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Cenderawasih. Meski sama-sama mengangkat tema pemberdayaan wanita sebagai motor penggerak pembangunan desa, kedua tim menawarkan pendekatan dan strategi nan berbeda.
Di kembali penampilan tersebut, para finalis mengaku menghadapi tantangan saat menyampaikan pendapat di hadapan majelis panelis.Eli, personil tim Lestari dari Universitas Cendrawasih, mengaku sempat kehilangan konsentrasi lantaran gugup ketika melakukan presentasi.
"Pada saat presentasi, saya sempat berakhir lantaran sudah sangat gugup. Akhirnya saya menenangkan diri terlebih dahulu, lampau melanjutkan presentasi," ujarnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Sam dari tim Amerta Pertiwi UNAIR. Ia mengaku sempat kesulitan menjawab pertanyaan dari salah satu panelis, Cinta Laura.
"Ketika Cinta Laura bertanya, saya untuk maneuvering jawaban ke arah nan lebih sederhana itu susah banget," katanya.
Sementara itu, intelektual sekaligus wirausahawan sosial Tri Mumpuni, nan juga menjadi panelis, menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada kualitas ide, tetapi juga pada sejauh mana pendapat tersebut realistis untuk diterapkan di masyarakat.
"Mahasiswa kudu bisa merumuskan langkah merespons persoalan sosial menjadi aktivitas nan konkret dan dapat diimplementasikan di tingkat desa. Mereka layak disebut generasi nan mempunyai keahlian intelektual sekaligus empati andaikan bisa memenuhi perihal tersebut," ujar Tri Mumpuni.
Empat dari delapan finalis nantinya bakal memperoleh kesempatan merealisasikan proposal mereka di empat desa wisata bimbingan Bakti BCA, ialah Desa Wisata Kreatif Terong di Kabupaten Belitung, Desa Wisata Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Desa Wisata Patakbanteng di Kabupaten Wonosobo, serta Desa Wisata Kakaskasen Dua di Kota Tomohon.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan semangat nan ditunjukkan para finalis menjadi bukti bahwa generasi muda mempunyai kepedulian sekaligus keberanian untuk menghadirkan perubahan di masyarakat.
"Kami sangat terpukau oleh semangat dan perjuangan nan diberikan para finalis. Hal ini membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya bisa berpikir kritis, tetapi juga mempunyai kepedulian nan besar untuk siap turun tangan memberi akibat nyata. Kami berambisi semangat ini terus tumbuh dan menghadirkan perubahan nan berkelanjutan," ujar Hera. (E-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·