Makin Sedikit Orang RI yang Cukur Rambut di Barbershop, Efeknya Terasa

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian ekonomi nasional menimbulkan pengaruh berantai ke beragam sektor usaha, tak terkecuali pangkas rambut alias barbershop. Sejumlah tukang cukur rambut mengaku mengalami penurunan jumlah pengguna di tengah tekanan ekonomi di kalangan masyarakat.

Deni contohnya, salah seorang tenaga kerja pangkas rambut Asgar (Asli Garut) di area Tebet, Jakarta Selatan menyadari adanya tren penurunan jumlah pengguna dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga pukul 12 siang saja pengguna nan datang baru satu orang.

"Kalau lagi ramai bisa sembilan sampai 15 orang. Tapi jika sunyi hanya 3 orang. Hari ini saja sampai jam segini baru satu pelanggan," ungkap Deni saat ditemui CNBC Indonesia, ditulis Rabu (8/7/2026).

Padahal, jasa pangkas rambut nan ditawarkannya relatif terjangkau. Deni membuka nilai mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 50 ribu saja untuk satu orang. Bila dirinci, jasa cukur rambut dewasa dipatok seharga Rp20 ribu, anak-anak Rp15 ribu, cukur jenggot Rp7 ribu, hingga semir warna rambut Rp50 ribu.

Meski harganya relatif terjangkau, saat ini terdapat banyak saingan upaya pangkas rambut nan membikin pengguna semakin tersebar. Hal ini tentunya mempengaruhi jumlah pengguna nan datang ke pangkas rambut tempat Deni bekerja. Di samping itu, Deni memandang pelemahan daya beli masyarakat ikut memengaruhi jumlah pengguna di tempatnya bekerja.

"Kalau dibanding tahun lampau memang terasa turun. Pengaruh ekonomi juga ada," katanya.

Lebih jauh, Deni menyatakan, jika sebelumnya kebiasaan cukur rambut dilakukan lebih rutin, sekarang sebagian masyarakat condong mengerem kunjungan ke tempat cukur rambut sebagai corak penyesuaian pengeluaran sehari-hari. Mengingat, para pengguna dari tempat dia bekerja biasanya kalangan menengah ke bawah. Pada akhirnya, omzet pengelola pangkas rambut menjadi semakin berjuntai pada momentum musiman.

Beralih ke area Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, seorang tenaga kerja sekaligus pengelola pangkas rambut, Ibrahim juga menjelaskan, pengguna pangkas rambut sebenarnya tetap ada setiap hari, namun jumlahnya tidak menentu. Pangkas rambut di tempatnya biasanya ramai saat momen akhir pekan alias saat setelah jam pulang kerja di atas jam 3 sore.

"Alhamdulillah sih ada tiap hari ada, ada nan nyukur ada gitu. Pernah sih dapet, 20 dapet juga tapi jarang. Tapi, jika hari-hari biasa paling ada 3-5 kepala nan dicukur," kata dia.

Ibrahim bilang, jasa cukur rambut untuk dewasa dihargai senilai Rp 35 ribu, anak-anak Rp 25 ribu, sedangkan untuk cukur jenggot Rp 10 ribu. Dia menjelaskan, karakter upaya jasa cukur rambut jelas berbeda dengan upaya lain seperti makanan nan memang telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Tampak bagian dalam barbershop di area BSD, Tangerang Selatan juga sepi. (Dok Istimewa)Tampak bagian dalam barbershop di area BSD, Tangerang Selatan juga sepi. (Dok Istimewa) Foto: Tampak bagian dalam barbershop di area BSD, Tangerang Selatan juga sepi. (Dok Istimewa)

Sebab, kebiasaan orang untuk pergi ke tempat cukur rambut berbeda-beda, meski ada beberapa orang nan merasa punya kebutuhan untuk memangkas rambutnya beberapa bulan sekali. Ditambah lagi, kenaikan nilai beragam kebutuhan pokok membikin banyak orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, termasuk untuk mencukur rambut.

Dari situ, Ibrahim berambisi kondisi ekonomi bisa kembali stabil, sehingga semua orang bisa memenuhi kebutuhannya, termasuk untuk mencukur rambut. Untuk saat ini, dia hanya menggantungkan pendapatannya terhadap loyalitas pengguna dan siapapun nan memerlukan cukur rambut.

"Pokoknya normal aja lah, gitu. Kita mah rakyat mini begini, gak banyak minta-minta banyak-banyak lah. Standar-standarnya normal aja harga-harga," terang dia.

Sementara itu, Pemilik Gamma Barbershop, Diana Ganefa mengatakan, sudah membuka upaya sejak tiga tahun terakhir lantaran memandang kesempatan upaya pangkas rambut tetap sangat terbuka. Ia juga berambisi aktivitas pangkas rambut bisa menjadi kebutuhan rutin bagi masyarakat Indonesia.

"Peluang di upaya ini tetap terbuka, harapannya aktivitas pangkas rambut bisa menjadi kebutuhan rutin bagi masyarakat Indonesia," jelasnya.

Kendati begitu, saat ini jumlah pengguna barbershop nan berlokasi di Tangerang Selatan tersebut tetap tidak menentu. Dalam satu hari paling sedikit barbershop tersebut melayani sekitar 2 orang dan paling banyak sekitar 15 orang.

Seperti tempat lainnya, Diana menilai, barbershop miliknya condong ramai hanya di momen-momen tertentu saja, seperti akhir pekan, menjelang Lebaran, dan ketika masuk tahun aliran baru.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya