ARTICLE AD BOX
(MI/Seno)
PERIBAHASA ‘malu bertanya sesat di jalan’ lahir jauh sebelum era digital. Namun, pesannya justru semakin mendesak. Banyak siswa sekarang mudah menemukan jawaban, tetapi belum tentu berani dan ocehan mengusulkan pertanyaan nan tepat.
Tanpa bertanya, pengetahuan mudah singgah di kepala, tetapi susah menjadi pemahaman. Dalam Pembelajaran Mendalam, keadaan ini tidak boleh dibiarkan. Siswa nan tak bersuara bukan selalu paham; bisa jadi dia bingung, takut keliru, alias belum menemukan argumen belajar.
Bertanya bukan sekadar langkah memperoleh jawaban dari guru. Pertanyaan menandakan seseorang berjumpa dengan persoalan, menyadari keterbatasan pengetahuan, lampau terdorong menyeberanginya. Ketika seorang siswa bertanya, “Mengapa rumus ini bekerja?”, “Apa hasilnya jika kondisi diubah?”, alias “Apakah ada penjelasan lain?”, dia sedang melakukan kerja intelektual. Ia tidak menerima pengetahuan sebagai peralatan jadi, melainkan menguji, menghubungkan, dan menyusunnya kembali.
SUMBER PENTING
Chin dan Osborne (2008) menegaskan bahwa pertanyaan siswa merupakan sumber krusial bagi pembelajaran berarti dan penyelidikan ilmiah. Karena itu, kelas nan baik bukan sekadar penuh jawaban benar, melainkan memberi ruang kondusif bagi pertanyaan jujur.
Sayangnya, budaya bertanya belum selalu hidup di sekolah. Di banyak kelas, pembimbing tetap menjadi pusat pertanyaan, sedangkan siswa hanya diminta menjawab. Guru bertanya untuk mengecek apakah siswa mengingat materi; siswa menjawab dengan singkat; lampau pelajaran bergerak ke soal berikutnya. Pola ini dapat menghasilkan kelas nan tertib, tetapi belum tentu menghasilkan pembelajar. Siswa belajar menebak jawaban nan diinginkan guru, bukan membangun rasa mau tahu.
Lebih memprihatinkan lagi, sebagian siswa enggan bertanya lantaran cemas dicap tidak memperhatikan, kurang cerdas, alias menghalang ritme kelas. Ketakutan seperti ini menjadikan kesunyian tampak sebagai disiplin, padahal sering kali dia adalah tanda pembelajaran nan belum sungguh hidup.
Dalam Pembelajaran Mendalam, bertanya semestinya datang pada seluruh pengalaman belajar: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pada tahap memahami, pertanyaan membantu siswa membedakan nan telah diketahui dari nan belum dipahami. Saat mengaplikasikan pengetahuan, pertanyaan mengantar mereka membaca konteks, membandingkan pilihan, dan memperkirakan akibat.
Pada tahap refleksi, pertanyaan membikin siswa menengok kembali proses berpikirnya: bagian mana nan berhasil, dugaan apa nan keliru, dan strategi apa nan perlu diperbaiki. Dengan demikian, bertanya menumbuhkan metakognisi, ialah keahlian belajar gimana belajar.
Naskah akademik Pembelajaran Mendalam menempatkan pengalaman dalam belajar nan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan sebagai jalan menju pendidikan bermutu; budaya bertanya adalah salah satu penggeraknya (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025).
FUNGSI BERTANYA
Bagi siswa, kegunaan bertanya setidaknya tiga. Pertama, pertanyaan menyalakan rasa mau tahu. Rasa mau tahu membikin belajar tidak berakhir sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan memahami dunia.
Kedua, pertanyaan melatih penalaran kritis. Siswa belajar tidak lekas percaya pada informasi, melainkan memeriksa sumber, alasan, bukti, dan kemungkinan perspektif pandang lain.
Ketiga, pertanyaan membantu siswa membangun kemandirian. Mereka tidak selalu berjuntai pada penjelasan pembimbing lantaran bisa mengenali kebuntuan belajar dan mencari jalan untuk mengatasinya.
Namun, tanggung jawab membangun budaya bertanya tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada siswa. Guru pun kudu bertanya, terutama kepada dirinya sendiri. Sebelum mengajar, pembimbing perlu bertanya: pengetahuan awal apa nan sudah dimiliki siswa? Konsep mana nan mungkin sulit? Pengalaman nyata apa nan dekat dengan kehidupan mereka?
Dalam proses pembelajaran, pembimbing perlu bertanya: siapa nan belum terlibat? Mengapa ada jawaban nan keliru? Apakah kekeliruan itu lahir dari miskonsepsi, bahasa soal, alias strategi belajar nan belum tepat? Seusai pembelajaran, pertanyaan reflektif pembimbing menjadi kompas perbaikan: apakah siswa betul-betul memahami, alias hanya dapat mengulang penjelasan?
Guru nan doyan bertanya tidak bakal terburu-buru menilai jawaban salah sebagai kegagalan. Ia melihatnya sebagai info pedagogis. Jawaban nan keliru dapat membuka jalan untuk mengetahui langkah berpikir siswa. Dari sana pembimbing dapat memilih penjelasan, contoh, tugas, alias support nan lebih relevan.
Sebaliknya, pembimbing nan merasa sudah mempunyai semua jawaban condong mengajar secara satu arah. Ia mungkin menyampaikan materi dengan lancar, tetapi tidak cukup peka terhadap apa nan sedang terjadi di akal siswa. Pembelajaran akhirnya menjadi penyampaian, bukan perjumpaan.
Karena itu, sekolah perlu membangun etika bertanya. Tidak ada pertanyaan nan ditertawakan. Tidak ada siswa nan dipermalukan lantaran belum memahami. Pertanyaan tidak kudu selalu lahir secara lisan; dia dapat muncul melalui catatan kecil, obrolan kelompok, kotak pertanyaan, jurnal refleksi, alias forum digital nan dikelola secara sehat.
PANGGILAN MEMBANGUN KEBERANIAN INTELEKTUAL
Guru dapat memberi waktu tunggu setelah bertanya, mengundang siswa menyusun pertanyaan, serta menghargai proses berpikir, bukan hanya jawaban cepat. Kelas nan menggembirakan bukan kelas tanpa kesulitan, melainkan kelas nan membikin siswa berani menghadapinya bersama-sama.
Peribahasa ‘malu bertanya sesat di jalan’ semestinya tidak dimaknai semata-mata sebagai nasihat agar anak giat meminta informasi. Dalam Pembelajaran Mendalam, dia adalah panggilan membangun keberanian intelektual. Siswa perlu berani mengakui belum tahu; pembimbing perlu berani mempertanyakan langkah mengajarnya; sekolah perlu berani meninjau kembali kebiasaan nan membungkam bunyi murid.
Jalan belajar memang tidak selalu lurus, tetapi pertanyaan nan jujur bakal menuntun kita agar tidak tersesat. Dari pertanyaan, lahir pemahaman; dari pemahaman, tumbuh kebijaksanaan. Semoga begitu.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·