Mangrove Buat Geger India, Terancam 'Digilas' Pembangunan Kota

38 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Kota Mumbai meluncurkan serangkaian proyek prasarana raksasa demi meningkatkan konektivitas dan mengurai kemacetan lampau lintas di pusat finansial India tersebut. Namun, pembangunan jalan pesisir pantai (coastal road) baru sepanjang 26 km diprediksi bakal membabat sekitar 45.000 pohon bakau alias mangrove.

Mengutip laporan Channel News Asia (CNA), Kamis (30/7/2026), ancaman pembabatan ini memicu kekhawatiran besar dari para aktivis lingkungan dan penduduk setempat. Penghilangan puluhan ribu pohon mangrove tersebut dinilai bakal melenyapkan tembok pertahanan alami kota dari ancaman banjir gelombang pasang, luapan air laut, serta akibat perubahan iklim.

Setiap musim monsun, hujan lebat rutin merendam wilayah Mumbai hingga melumpuhkan aktivitas harian warga. Urbanisasi nan sangat pesat selama puluhan tahun tidak diimbangi oleh perbaikan prasarana drainase, sementara letak pesisir nan rendah membikin kota ini banget rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

"Mumbai adalah kota kepulauan nan diciptakan dari lahan reklamasi, sehingga laut selalu menekan dan mengikis daratan. Hutan mangrove menjadi tembok pertahanan alami terhadap gelombang pasang ini. Ketika perubahan suasana meningkatkan permukaan laut, tekanan air juga meningkat, dan mangrove adalah perihal nan menahan kehancuran tersebut," terang Direktur Kelompok Lingkungan Vanashakti, Stalin Dayanand.

Skema Penanaman Kompensasi dan Langkah Pemerintah

Pengadilan Tinggi Bombay telah memerintahkan penanaman kompensasi sebanyak sekitar 174.000 pohon mangrove baru untuk menggantikan tanaman nan terdampak proyek. Penanaman kembali tersebut bakal dilangsungkan di beberapa lokasi, termasuk di sepanjang jalur jalan tol baru setelah proses bangunan selesai.

Pemerintah Negara Bagian Maharashtra menegaskan komitmennya untuk menyeimbangkan kebutuhan konservasi lingkungan dengan pembangunan prasarana kota. Otoritas setempat apalagi telah membentuk unit unik Mangrove Cell sejak 2012 untuk melindungi, mengonservasi, memulihkan area nan rusak, serta melakukan patroli pencegahan penyerobotan lahan.

"Otoritas perencana telah berjanji untuk menanam tiga hingga lima kali lipat jumlah mangrove nan bakal ditebang. Pada akhirnya, hasil bersihnya adalah peningkatan tutupan mangrove di kota dan negara bagian nan mencerminkan pembangunan berkelanjutan," tegas Anggota Dewan Legislatif Maharashtra, Ameet Satam.

Kritik Aktivis Lingkungan dan Hilangnya Ekosistem

Para kritikus dan aktivis lingkungan menilai bahwa menanam mangrove baru tidak bisa secara instan menggantikan kegunaan rimba mature nan memerlukan waktu puluhan tahun untuk tumbuh sempurna. Selama proses pertumbuhan tersebut, ekosistem satwa liar terancam lenyap dan mata pencaharian organisasi nelayan lokal berpotensi terganggu secara drastis.

Data perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 40% rimba mangrove di Mumbai telah lenyap antara tahun 1991 hingga 2001 akibat percepatan laju urbanisasi. Dayanand menilai proyek prasarana sebetulnya bisa dirancang melintasi jalur atas alias bawah tanah untuk meminimalkan kerusakan, meski memerlukan biaya nan sedikit lebih mahal.

Para master menambahkan bahwa perlindungan mangrove saja tidak bakal cukup untuk menyelesaikan masalah banjir kronis di Mumbai. Penyelamatan rimba mangrove kudu disertai dengan modernisasi sistem drainase kota, penataan ruang urban nan lebih baik, serta penerapan langkah-langkah penyesuaian suasana nan komprehensif.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya