Masih Perlukah Novelty di Kampus?

2 jam yang lalu 4
Masih Perlukah Novelty di Kampus? (Dok. Pribadi)

KATA novelty (kebaruan) betul-betul menjadi kutukan nan sudah tidak asing bagi mahasiswa Indonesia. Apa pun hebatnya karya buah kerja mahasiswa, jika novelty tidak bisa dipertahankan, nilainya tidak ada. Ini sungguh situasi tidak mengenakkan bagi mahasiswa dan menjadi tekanan psikis nan berat. Skripsi, tesis, dan disertasi, jika tidak mengandung nilai novelty, sudah pasti potensial ditolak. Rangkaian kerja panjang menjadi tidak ada artinya dan pengaruhnya adalah kelulusan tertunda, sampai ditemukan titik novelty-nya.

URGENSI NOVELTY

Sampai saat ini bumi pendidikan tinggi memang tetap mendewa-dewakan novelty. Semakin bergengsi kampus menunjukkan nilai novelty-nya tinggi. Demikian pula sebaliknya, mini jumlah novelty-nya maka kampusnya seolah bukan papan atas. Dampaknya seluruh sivitas kampus dieksplorasi untuk menggali novelty di mana saja. nan terberat tentu mahasiswa, berat pencariannya ditentukan lebih besar dan menjadi kunci di tugas-tugas akademik akhir, dan hasilnya adalah molor studi.

Nilai kebaruan pada awalnya memang digunakan untuk mempopulasikan jumlah penelitian, semakin banyak bagian dan tema penelitian maka bakal menambah kans kampus masuk dalam jejeran kampus berpengaruh. Novelty tentu saja kudu baru. Jika saat itu tetap era buku, novelty-nya adalah digital. Jika saat itu teknologi pertaniannya konvensional, novelty-nya adalah pertanian modern di lahan-lahan sempit dan terbatas. Jika kedokteran konvensional, novelty-nya adalah kedokteran digital. Masih banyak lagi, dan intinya temuan baru nan berbeda sama sekali dengan sebelumnya.

Tujuannya memang bagus untuk menunjukkan bahwa pengetahuan pengetahuan berada di garda terdepan kemajuan peradaban manusia. Pemilik pengetahuan pengetahuan, ialah kampus dan pendidikan tinggi, dapat membuktikan eksistensi bahwa kampus selalu terdepan memikirkan nan apalagi manusia belum memikirkan pada masanya.

Pada tahun 1986 saat penulis belajar pengetahuan kelistrikan, novelty pada bagian itu sudah mulai ada dengan ditemukan motor linier pada skala kampus. Ide dasarnya dari motor listrik semula bulat dan berputar, badannya kemudian dipotong dan digelar, maka bagian rotor bakal melangkah secara linier tidak lagi berputar. Temuan mahasiswa Indonesia 1986 itu sekarang menjadi kereta listrik nan massal di mana-mana. Novelty terus berkembang, tidak hanya motor linier, sekarang teknologi sudah mencapai style tolak medan listrik nan dikenal dengan kereta maglev di Jepang dan Tiongkok.

Perkembangan saat ini sudah pada kelebihan baterai untuk mobil listrik dan kecepatan dalam isi ulang dengan sasaran sebanding dengan lama pengisian di SPBU konvensional. Novelty mobil listrik (menuju mobil hidrogen) barangkali saat ini menjadi titik optimum kebaruan pada bagian daya dan transportasi.

PERLU PENDALAMAN

Persoalannya apakah kampus Indonesia bakal dipaksa berkompetisi dengan ekosistem nan tidak dipunyainya? Jika novelty tertinggi adalah medan magnet dan hidrogen, kampus kita bakal membuka arena baru bagian superkonduktor alias inti nuklir? Ini semestinya nan perlu menjadi kontemplasi kita berbareng bakal diarahkan ke mana sumber daya manusia produk pendidikan tinggi Indonesia. Sangat menyedihkan para akademisi seolah diteror dengan diksi novelty oleh elite kampus, sementara kebenaran novelty di Indonesia pun sangat tertatih-tatih.

Di kampus Tiongkok dan Jepang, persoalan novelty saat ini bukan menjadi perihal mandatori lantaran sangat fleksibelnya pengetahuan pengetahuan. Dibolehkan penelitian dengan tema sama, tetapi substansinya adalah pendalaman. Jika dulu baterai mobil listrik menggunakan material dari mineral nikel, mangan, alias kobalt, maka novelty-nya diubah dengan material berbeda seperti litium, besi, alias fosfat. Kampus kompromi dan tetap memberikan nilai penelitian tersebut berkualitas.

Perihal novelty ini perlu dikompromikan di kampus Indonesia. Sudah demikian lama keharusan novelty menjadi kewajiban, tetapi akibat di masyarakat tetap saja produk turunan bukan dari Indonesia. Kemajuan media, misalnya, bangsa ini tetap saja bukan pembuat namun pengguna. Misalnya kemajuan media sosial, platformnya tetap saja ditemukan bukan dari Indonesia.

Tampaknya spirit selalu novelty kudu diubah lantaran ekosistem kampus Indonesia memang belum bisa berada di titik itu. Kampus kudu introspeksi berada di titik mana dan ke mana memberikan kontribusi untuk kemajuan Indonesia. Tidak perlu menjadi negara di barisan pertama novelty lantaran nyatanya memang belum mampu. Tidak perlu menciptakan drone alias rudal presisi, tetapi meneliti komponen drone alias komponen rudal lebih memberikan kontribusi. Rangking novelty mobil listrik tidak dari Indonesia, tetapi mengembangkan material dan komponen mobil listrik lebih memungkinkan di kampus Indonesia.

Banyak subjek penelitian remeh-temeh, tetapi diabaikan oleh sumber daya kampus Indonesia lantaran dianggap tidak berbobot novelty. Bidang itu misalnya penemuan pertanian, sungai nan kotor, sampah merajalela, kemacetan di mana-mana, bahan pangan alternatif, alias tata wilayah nan semrawut. Kampus bercita-cita tinggi meraih pengetahuan roket agar melesat di angkasa, tetapi ironisnya jalan menuju kampus setiap pagi selalu macet dan melelahkan.

Hal ini seolah dipandang biasa dan normal, lantaran volume, lantaran waktu bersamaan, dan banyak lagi alasannya. Kampus semestinya berpikir, seluruh aspek dikaji, dan diberikan solusinya, ini lebih berarti daripada selalu mengejar novelty.

Hal nan perlu pula dipikirkan, novelty nan tidak didukung ekosistem, hasilnya adalah tersimpan dalam laboratorium kampus. Sudah ditemukan embrio transportasi massal murah seperti motor linier sejak 1980-an, tetapi nan menjadikan kereta listrik magnetik justru negara lain.

Sebaiknya kampus kita lebih melakukan pendalaman bidang, jangan tergopoh-gopoh mencari novelty banyak bagian tapi tidak ada nan mahir sama sekali.

Selengkapnya