ARTICLE AD BOX
Perdagangan daging ayam di pasar Marelan, Medan.(MI/Yosep Pencawan)
HARGA daging ayam segar terpantau mengalami lonjakan signifikan di sejumlah pasar tradisional di Kota Medan dan sekitarnya. Lonjakan nilai terjadi seiring mulai berjalannya lagi program MBG seusai libur panjang sekolah.
Di wilayah Deli Serdang, nilai daging ayam nan sebelumnya berada di nomor Rp30.000 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp32.000 per kilogram. Tren serupa terjadi di Kota Medan.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan, nilai daging ayam di Pasar Sukaramai melonjak dari Rp31.500 pada 10 Juli menjadi Rp33.500 per kilogram pada Senin, 13 Juli 2026.
Ekonom dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai kenaikan nilai daging ayam ini murni dipicu oleh lonjakan permintaan pasar, bukan lantaran hambatan pasokan.
"Kalau berbincang suplai alias persediaan, pada dasarnya saya tidak memandang ada perubahan. Stok ayam hidup selama satu bulan terakhir terpantau stabil," ungkapnya, Senin (13/7).
Karena itu dia memastikan kenaikan nilai daging ayam ini akibat kenaikan demand alias permintaan lantaran program MBG mulai bergulir kembali.
Menurut Gunawan, daging ayam hingga sekarang tetap mendominasi menu dalam program MBG, terutama di awal tahun aliran baru. Meski memberatkan konsumen tetapi di sisi lain dia memandang kenaikan nilai ini berakibat positif bagi peternak nan selama ini tertekan akibat tingginya nilai pakan dunia pasca-konflik Iran-AS.
Dia memeroyeksikan tekanan nilai tetap bakal akan berjalan dalam waktu dekat. Pasalnya, bulan Muharram bakal berhujung pada 15 Juli mendatang, nan biasanya diikuti dengan peningkatan aktivitas sosial masyarakat nan memicu lonjakan permintaan.
Selain daging ayam, komoditas cabe rawit juga mencatatkan kenaikan nilai nan tajam. Di Deli Serdang, nilai cabe rawit menyentuh nomor Rp80.000 per kilogram.
Berdasarkan pantauan PIHPS di Pasar Sukaramai Medan, nilai cabe rawit hijau berada di kisaran Rp65.000 per kilogram.
Namun berbeda dengan daging ayam. Gunawan menilai kenaikan nilai cabe rawit lebih disebabkan oleh hambatan pasokan, bukan semata lantaran permintaan tinggi.
"Saya memandang pasokan cabe rawit tidak sebanyak hari normal," ujarnya.
Terkait dengan kenaikan nilai beras nan terjadi dalam sepekan terakhir, nan apalagi memicu pembatasan pembelian di sejumlah ritel modern, Gunawan memandang masalah utamanya terletak pada sisi pasokan.
"Untuk beras, pasokannya memang mengalami penurunan. Sementara permintaan condong melandai," pungkasnya. (YP/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·