ALMA mengabadikan gambar menakjubkan dari bintang Betelgeuse nan bakal segera hancur(ALMA(ESO/NAOJ/NRAO)/W. Dent et al.)
PARA astronom sukses mengabadikan gambaran permukaan bintang maharaksasa merah Betelgeuse dengan tingkat perincian nan belum pernah tercapai sebelumnya. Melalui pengamatan canggih terbaru, para intelektual bisa memandang gejolak materi dan konveksi raksasa di permukaan bintang sekarat nan terletak di konstelasi Orion tersebut.
Betelgeuse merupakan salah satu bintang paling terang nan dapat dilihat dari Bumi dengan mata telanjang. Bintang ini berukuran sangat masif, jika diletakkan di pusat tata surya kita, permukaannya bakal membentang hingga melampaui orbit planet Yupiter. Karena ukurannya nan banget besar dan jaraknya nan relatif dekat, Betelgeuse menjadi salah satu dari sedikit bintang di luar Matahari nan permukaannya dapat dipetakan secara langsung oleh teleskop Bumi.
Hasil pengamatan terbaru memperlihatkan fitur-fitur konveksi raksasa di permukaan Betelgeuse, tempat materi panas terdorong naik dari bagian dalam bintang sebelum akhirnya mendingin dan tenggelam kembali. Gelembung-gelembung konveksi di permukaan Betelgeuse ini berukuran sangat fantastis, apalagi ribuan kali lebih besar dibandingkan gelembung konveksi nan ada di Matahari.
Fenomena gejolak permukaan ini juga memberikan petunjuk krusial bagi para astronom untuk memahami perilaku asing Betelgeuse dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2019 hingga awal 2020, bintang ini sempat mengalami peristiwa redup misterius (Great Dimming) nan memicu spekulasi bahwa Betelgeuse bakal segera meledak menjadi supernova. Pengamatan perincian terbaru mengonfirmasi bahwa peristiwa peredupan tersebut dipicu oleh lontaran gumpalan materi panas besar dari permukaannya nan mendingin menjadi awan debu tebal dan menghalangi cahayanya.
Para intelektual menjelaskan bahwa Betelgeuse berada pada fase akhir perkembangan bintang. Bintang maharaksasa merah ini telah menghabiskan bahan bakar hidrogen di intinya dan sekarang sedang memproses unsur-unsur nan lebih berat. Proses internal nan tidak stabil ini menyebabkan lapisan luar bintang mengembang, berdenyut, dan melepaskan sebagian massanya ke ruang angkasa.
Meski berada di penghujung usianya dan dipastikan bakal mengakhiri hidupnya dalam ledakan luar biasa supernova, para astronom memperkirakan ledakan tersebut bisa terjadi kapan saja dalam rentang waktu ribuan hingga seratus ribu tahun mendatang.
Pencapaian gambar terbaru ini menjadi tonggak krusial dalam pengetahuan astronomi, memberikan pemahaman nan jauh lebih mendalam kepada para peneliti mengenai dinamika bentuk serta proses kematian bintang-bintang maharaksasa di alam semesta. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·