Mendudukkan kembali Iran sebagai Poros Peradaban Pembelajaran Dunia

1 hari yang lalu 10
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

SELAMA beberapa dekade, diskursus mengenai Iran terfokus pada sanksi, negosiasi nuklir, dan ketegangan kawasan. Isu-isu tersebut memang dapat dipahami mendominasi diskursus selama ini, tetapi ada aspek lain nan luput dari perhatian: Iran sebagai pusat peradaban pembelajaran dunia, nan sejarah intelektualnya merentang dari era Sasaniyah (224-651 M) hingga polymath Islam pada Zaman Keemasan Islam (Abbasiyah) sekitar abad ke-8 hingga ke-13 M.

Sekiranya rekonsiliasi Iran-AS betul-betul terwujud, salah satu kemajuan menjanjikan adalah di bagian pendidikan dan penemuan pengetahuan. Potensi perubahan berhistoris itu tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga bumi dalam kerja sama saintifik dan pertukaran akademia, terutama di nanoteknologi, kedokteran, dan astronomi nan selama ini rupanya berkembang subur di kembali isolasi.

Perkembangan geopolitik memang menunjukkan rapuhnya proses negosiasi perdamaian. Walaupun perjanjian Swis awalnya membawa harapan, ketegangan nan terus muncul menandakan rekonsiliasi tetap belum pasti. Namun, kita tidak boleh kehilangan angan dan kudu tetap optimistis lantaran apa pun, termasuk nan mustahil, bisa terjadi.

Secara kasatmata, perkembangan saat ini memang terkesan mengunci masa depan, tetapi sejarah membuktikan detente kerap lahir dari krisis berkepanjangan, menjadikan rekonsiliasi sebagai kemungkinan logis nan tidak boleh diabaikan.

Yang menarik, meski digempur hukuman dan isolasi puluhan tahun, Iran terus berinvestasi di pendidikan dan penelitian. Sanksi membatasi pertukaran akademik, tetapi justru mendorong kemandirian saintifik dan penemuan nan lebih presisi. Fenomena itu menciptakan paradoks: tekanan eksternal nan lazim mematikan inovasi, dalam kasus Iran, bertindak sebagai katalis bagi ekosistem riset nan adaptif dan efisien.

Dalam ketegangan Iran versus AS dan Israel, teknologi persenjataan Iran justru berkembang canggih hingga membikin takjub. Itu tidak bakal tercipta tanpa tangan dingin insinyur-insinyur Iran. Keberhasilan militer mencerminkan kemajuan sipil nan mendasarinya lantaran fisika, matematika, dan material tidak mengenal pemisah penggunaan.

Dengan demikian, mengabaikan Iran sebagai mitra akademik adalah kesalahan strategis. Di kembali narasi politik nan gaduh, terdapat pusat kelebihan teknis nan dapat menawarkan solusi bagi tantangan dunia seperti perubahan suasana dan ketahanan pangan, asalkan bumi berani membuka ruang perbincangan nan inklusif.

REPRESENTASI SALAH SATU PERADABAN DUNIA YANG LUAR BIASA

Iran merepresentasikan salah satu peradaban bumi nan luar biasa. Sepanjang sejarah, bangsa Persia telah memberikan kontribusi ke sains, filsafat, kedokteran, dan matematika. Sejarah mencatat kontribusi monumental para intelektual Persia, mulai Ibnu Sina di bagian kedokteran hingga Al-Khawarizmi di bagian aljabar, nan menjadi fondasi sains modern. Mereka bukan sekadar transmitter pengetahuan, melainkan juga pembuat dan penemu aktif beragam bagian pengetahuan nan baru.

Gerakan translator Abbasiyah di Baghdad sangat bertumpu pada cerdas pandai Persia, nan terinspirasi oleh tradisi keilmuan Sasaniyah dan aktif mengalihbahasakan karya Persia ke Arab. Namun, aktivitas itu juga kosmopolitan: tokoh Kristen seperti Hunayn ibn Ishaq berkedudukan kunci menerjemahkan teks Yunani, sementara sumber pengetahuan datang pula dari India. Singkatnya, peran Persia memang dominan, tetapi era keemasan itu lahir dari kerjasama lintas peradaban.

Lebih dari itu, tradisi pembelajaran bangsa Persia terus bersambung hingga saat ini. Menurut UNESCO (2021), publikasi ilmiah Iran meningkat dari sebelumnya di bawah 1.000 setiap tahun pada pertengahan 1990an ke lebih dari 50 ribu pada akhir 2010-an. Comstech (2022) juga menempatkan Iran di antara sepuluh besar bumi pada publikasi nanoteknologi. Global Innovation Index 2025 menempatkan Iran pada posisi ke-70 di antara 130 negara, mereflreksikan performa nan kuat bagian pengetahuan dan teknologi walaupun di tengah hukuman nan berkepanjangan (WIPO, 2025).

Dengan demikian, pengalaman Iran membantah persepsi bahwa tidak mungkin menciptakan pengetahuan baru di bawah kondisi isolasi, justru malah menunjukkan komitmen untuk melanjutkan aktivitas saintifik dengan dorongan investasi besar pemerintah Iran di bagian pendidikan dan pengembangan saintifik.

Selain itu, perlu disinggung dimensi moral masyarakat Iran. Sebagai contoh, dalam tradisi Syiah, pendirian teguh Imam Husain di Karbala dikenang sebagai teladan bakal sikap nan terhormat serta kesediaan untuk berkorban demi pembebasan kaum tertindas. Perspektif itu menjelaskan support konsisten Iran terhadap perjuangan bangsa Palestina. Meskipun beberapa pihak mungkin tidak sependapat dengan strategi-strategi tertentu nan diterapkan Iran, komitmen terhadap perjuangan itu dipandang masyarakat Iran sebagai tanggungjawab moral, bukan sekadar strategi geopolitik. Memahami perihal itu membantu memahani wawasan masyarakat Iran menyikapi rumor Palestina.

Persepsi publik dunia terhadap Iran kerap terdistorsi oleh pemberitaan politik dan ketegangan geopolitik sehingga mengaburkan identitas historis mereka sebagai salah satu poros utama peradaban pengetahuan pengetahuan. Mereduksi Iran hanya pada kontroversi nuklir alias ketegangan diplomatik adalah kekeliruan intelektual nan merugikan, terutama bagi Indonesia, nan justru tengah berupaya keras mengejar sasaran visi Indonesia emas 2045 melalui hilirisasi industri dan penguatan sumber daya manusia.

Oleh lantaran itu, perguruan tinggi menjadi medan paling strategis untuk mendekonstruksi stereotip tersebut. Melalui program pertukaran mahasiswa dan riset kolaboratif antara pengajar dari kalangan Sunni dan Syiah, dapat terjadi perbincangan epistemologis nan tidak hanya mempererat toleransi antarumat beragama, tetapi juga menghasilkan sintesis pemikiran keislaman nan kontekstual dan antisipatif terhadap rumor kontemporer seperti etika kepintaran buatan dan ekonomi hijau.

KIBLAT RISET NANOTEKNOLOGI DAN BIOTEKNOLOGI MEDIS

Dari sisi substansi keilmuan, kerja sama pendidikan Indonesia-Iran menawarkan kesempatan komplementaritas nan nyata. Iran telah lama diakui bumi internasional sebagai kiblat dalam riset nanoteknologi dan bioteknologi medis, apalagi menempati ranking teratas di area Asia Barat dalam produksi pengetahuan pengetahuan di bagian teknik dan kedokteran. Indonesia, di sisi lain, mempunyai keanekaragaman hayati terbesar kedua di bumi serta tantangan geografis kepulauan nan kompleks. Integrasi antara skill Iran dalam pengembangan vaksin berbasis sel punca (stem cell) dan kebutuhan Indonesia bakal sistem kesehatan nan handal di wilayah terpencil merupakan satu contoh nyata.

Lebih jauh, di tengah transisi daya global, kelebihan Iran dalam teknologi panel surya dan daya terbarukan dapat diadaptasi untuk mengatasi kesenjangan listrik di Indonesia Timur. Pemerintah Iran menargetkan kapabilitas daya terbarukan mencapai 30 gigawatt (GW) pada 2030, dengan sekitar 80% alias 24 GW berasal dari tenaga surya. Dalam satu separuh tahun terakhir, kapabilitas terbarukan Iran tumbuh hingga 157%.

Saat ini, pembangunan pembangkit surya dilakukan di lebih dari 850 letak dengan total kapabilitas di atas 5.000 megawatt (MW). Kolaborasi di bagian kepintaran buatan untuk pemodelan suasana juga krusial, mengingat kedua negara sama-sama rentan terhadap akibat perubahan suasana dan kekeringan. Dengan demikian, kerja sama itu bukanlah hubungan donor-resipien, melainkan kemitraan setara nan menggabungkan kekuatan riset dasar Iran dengan keahlian riset terapan dan sumber daya alam Indonesia.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, konsep diplomasi sains nan didefinisikan UNESCO dapat diimplementasikan secara sistematis, bukan sekadar wacana seremonial. Diplomasi sains menuntut adanya kebijakan terarah, seperti pendirian joint research center nan melibatkan kementerian riset kedua negara, serta penyederhanaan birokrasi untuk mobilitas akademik. Indonesia, dengan politik luar negerinya nan bebas-aktif, mempunyai posisi tawar strategis untuk menjadi penyedia dalam forum pengetahuan pengetahuan multilateral, menjembatani Iran dengan negara-negara ASEAN.

Saat ini, sektor pendidikan tinggi Iran menaungi lebih dari 3 juta mahasiswa, sebuah nomor nan mencerminkan resiliensi luar biasa. Meskipun tekanan ekonomi akibat hukuman berkepanjangan, Iran justru menunjukkan investasi pada modal intelektual adalah corak ketahanan nasional nan paling tangguh. Hal itu menjadi pelajaran berbobot bagi Indonesia bahwa keterbatasan anggaran bukanlah halangan untuk membangun ekosistem riset nan kompetitif. Bahkan kaum wanita Iran juga mengambil peran terkemuka dalam bagian riset dan pendidikan, menunjukkan pola pikir masyarakat Iran nan tidak terkungkung oleh budaya patriakal nan kerap dilekatkan kepada masyarakat muslim.

Tentunya, kita tidak boleh naif terhadap deretan tantangan nan menghadang. Hambatan bahasa dapat diatasi melalui program intensif bahasa Persia, sementara hambatan visa dan transaksi perbankan internasional, nan menjadi pengaruh domino dari sanksi, memerlukan terobosan seperti skema pembayaran berbasis barter knowledge alias penggunaan mata duit lokal dalam skema pendanaan universitas.

Tantangan-tantangan itu justru semestinya memacu penemuan administratif, bukan dijadikan argumen pembenar untuk stagnasi. Masyarakat internasional, termasuk Indonesia, juga perlu menyadari bahwa hubungan nan lebih konstruktif antara Iran dan AS bakal menciptakan suasana dunia nan lebih kondusif.

WARISAN NYATA

Meski demikian, Indonesia tidak perlu menunggu detente politik semacam itu untuk bergerak; justru dengan membangun kerja sama intelektual nan kuat sekarang, Indonesia dapat berkontribusi pada pencairan ketegangan melalui jalur akademik nan lebih berkepanjangan daripada jalur diplomatik formal.

Pada tataran filosofis, martabat sebuah bangsa pada akhirnya diukur bukan semata dari kekuatan senjata alias besarnya produk domestik bruto, melainkan juga dari kontribusi aktual mereka terhadap khazanah pengetahuan umat manusia. Dalam konteks rekonsiliasi peradaban, pemulihan hubungan intelektual dengan Iran adalah investasi jangka panjang bagi pengayaan wacana global.

Indonesia perlu mereposisi diri dari sekadar konsumen pengetahuan menjadi mitra aktif dalam jaringan pengetahuan dunia nan inklusif. Dengan membuka lembaran baru hubungan Indonesia-Iran di ranah akademik, kita tidak hanya membangun masa depan nan lebih cerah bagi kedua negara, tetapi juga menghidupkan kembali semangat keemasan peradaban Islam nan pernah menjadi mercusuar dunia. Kerja sama itulah nan kelak bakal dikenang sebagai warisan nyata, melampaui perdebatan politik sesaat nan kerap memecah belah.

Selengkapnya