Mengapa Kanker Payudara Sering Terlambat Terdeteksi? Ini Penjelasan Dokter

54 menit yang lalu 2
Mengapa Kanker Payudara Sering Terlambat Terdeteksi? Ini Penjelasan Dokter Ilutrasi Kanker Payudara(Magnific)

KANKER payudara tetap menjadi ancaman kesehatan serius bagi wanita di Indonesia. Meski edukasi terus digalakkan, kasus pasien nan datang dalam kondisi stadium lanjut tetap sangat tinggi. Fenomena ini memicu keprihatinan di kalangan medis, mengingat keterlambatan penanganan sangat memengaruhi kesempatan kesembuhan dan biaya pengobatan.

Keterlambatan Deteksi Kanker Payudara

Dokter subspesialis Bedah Onkologi, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K), menjelaskan bahwa kanker tetek sering kali tidak disadari oleh penderitanya hingga mencapai tahap nan parah. Salah satu aspek utamanya adalah karakter penyakit ini nan berkembang sangat sigap dan belum mempunyai vaksin pencegah, berbeda dengan kanker serviks.

Menurut dr. Gusti Ayu, ada beberapa argumen kenapa pasien sering terlambat mendapatkan penanganan medis nan tepat:

  • Ketergantungan pada Pengobatan Alternatif: Banyak pasien nan awalnya merasakan benjolan mini lebih memilih mencari pengobatan pengganti dibandingkan memeriksakan diri ke rumah sakit. Hal ini membikin sel kanker terus berkembang tanpa intervensi medis nan terukur.
  • Gejala nan Tidak Disadari: Pasien sering kali menganggap benjolan mini bukan masalah besar. "Kalau breast cancer itu memang tahu-tahu sudah gede, sudah stadium, padahal katanya benjolannya kecil-kecil saja," ujar dr. Gusti Ayu di Kaiser Cancer Center, BSD City, Tangerang.
  • Kondisi Fisik nan Sudah Parah: Saat akhirnya memutuskan ke akomodasi kesehatan, banyak pasien ditemukan dengan ukuran tumor nan sudah besar, apalagi dalam beberapa kasus sudah menjadi luka nan mengeluarkan aroma tidak sedap.

Pentingnya Deteksi Dini: Mamografi dan USG

Dokter lulusan Universitas Airlangga nan berpraktik di RSUD Pasar Minggu ini menekankan bahwa kunci utama keberhasilan pengobatan kanker tetek adalah deteksi dini. Jika kanker ditemukan pada stadium awal (early stage), proses penanganannya jauh lebih sederhana.

Manfaat Deteksi Dini:

  • Prosedur operasi nan tidak rumit (less complicated).
  • Biaya pengobatan nan jauh lebih rendah.
  • Kebutuhan bakal terapi lanjutan (seperti kemoterapi berat) dapat diminimalkan.

Untuk menangkap kasus pada stadium dini, dr. Gusti Ayu menyarankan dua metode skrining utama:

  1. Mamografi: Disarankan masuk ke dalam program medical check-up rutin bagi perempuan.
  2. USG Payudara: Sangat dianjurkan bagi wanita usia muda untuk mendeteksi kelainan jaringan tetek sejak dini.

Beban Kasus dan Pembiayaan BPJS Kesehatan

Data dari BPJS Kesehatan menunjukkan tren nan mengkhawatirkan mengenai peningkatan kasus kanker tetek di Indonesia. Penyakit ini masuk dalam kategori penyakit katastropik dengan beban pembiayaan nan sangat signifikan.

Tahun Jumlah Kasus Biaya Terverifikasi
2021 1.080.031 kasus Rp1,03 Triliun
2025 1.941.410 kasus Rp1,99 Triliun

Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menyatakan bahwa peningkatan kasus hingga mencapai lebih dari 1,9 juta kasus pada tahun 2025 menegaskan pentingnya optimasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Melalui JKN, peserta wanita dapat mengakses beragam jasa kesehatan di setiap fase kehidupan, termasuk jasa penemuan awal untuk mencegah keterlambatan penanganan kanker payudara.

Keterlambatan penemuan kanker tetek bukan hanya masalah medis, tetapi juga masalah edukasi dan akses. Dengan menghindari pengobatan pengganti nan tidak teruji dan rutin melakukan skrining berdikari maupun medis (USG/Mamografi), kesempatan kesembuhan pasien dapat ditingkatkan secara signifikan sekaligus menekan beban biaya kesehatan nasional. (Ant/H-4)

Selengkapnya