Mengapa Pekerjaan Dominasi Perempuan Digaji Lebih Murah? Ini Temuan Studi Terbaru

20 jam yang lalu 3
Mengapa Pekerjaan Dominasi Perempuan Digaji Lebih Murah? Ini Temuan Studi Terbaru Ilustrasi(Magnific)

KESENJANGAN penghasilan berasas kelamin tetap menjadi persoalan pelik di bumi kerja global. Sebuah penelitian terbaru nan diterbitkan dalam jurnal Research in Social Stratification and Mobility membuktikan jenis pekerjaan nan didominasi wanita condong dinilai lebih rendah dan diberi penghasilan lebih mini dibandingkan pekerjaan nan didominasi pria, meskipun tingkat skill dan pendidikannya setara.

Fenomena ini selaras dengan "hipotesis devaluasi" nan digagas oleh Paula England dari New York University Abu Dhabi sejak pertengahan 1990-an. Teori tersebut menyatakan bahwa pekerjaan nan diidentikkan dengan wanita kerap dianggap kurang berbobot secara budaya, sehingga berakibat langsung pada penurunan penetapan upah.

Untuk menguji teori tersebut secara mendalam, Profesor Catherine Taylor dari University of California, Santa Barbara (UCSB) berbareng tim peneliti dari empat universitas melakukan penelitian terkontrol terhadap sampel representatif ribuan orang dewasa.

"Teori ini menyatakan bahwa kita mendevaluasi kontribusi wanita dalam masyarakat," ujar Taylor. 

"Perempuan tetap menghasilkan 85 sen untuk setiap satu dolar nan dihasilkan pria, dan kita tahu sebagian alasannya adalah lantaran wanita berada dalam pekerjaan nan bergaji lebih rendah. Namun penelitian kami bertanya, apakah kita betul-betul bayar suatu pekerjaan lebih rendah lantaran ada wanita di dalamnya?"

Dalam eksperimennya, para peneliti menggunakan satu penjelasan pekerjaan netral kelamin nan sama, ialah konsultan manajemen. Seluruh penjelasan mengenai tugas, keahlian, dan tuntutan kerja dibuat identik. Satu-satunya perihal nan diubah adalah proporsi keterlibatan wanita dalam bagian tersebut, ialah 25 persen (didominasi pria), 45%, dan 67% (didominasi perempuan).

Responden kemudian diminta menyarankan penghasilan pokok awal untuk lulusan baru perguruan tinggi pada rentang US$40.000 hingga US$100.000 per tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa jenis pekerjaan nan didominasi wanita (67%) mendapatkan rekomendasi penghasilan awal nan secara signifikan lebih rendah dibanding jenis kekuasaan pria, dengan selisih mencapai sekitar US$865 per tahun. Penurunan ini disepakati baik oleh responden laki-laki maupun perempuan. Selain itu, bias penghasilan ini baru muncul ketika pekerjaan tersebut digambarkan secara jelas kebanyakan perempuan.

Menariknya, bias ini tidak berasal dari pandangan bahwa pekerja wanita kurang terampil alias kurang berkomitmen, lantaran penilaian atas keahlian pekerja tetap sama. Artinya, devaluasi terjadi pada profesinya itu sendiri.

"Saya pikir krusial bagi para pemberi kerja untuk memahami mereka sendiri terkadang mendevaluasi wanita tanpa memikirkannya," kata Taylor. "Kesenjangan penghasilan bukan tentang adanya preferensi melekat pada wanita untuk pekerjaan nan menawarkan bayaran lebih rendah, melainkan lantaran kita memang bayar pekerjaan wanita lebih rendah lantaran kita mendevaluasi perempuan."

Sebagai langkah penanganan, Taylor menyarankan agar perusahaan menerapkan standar penggajian nan objektif.

"Satu sarannya adalah agar pemberi kerja memastikan kriteria pembayaran penghasilan mereka terstandarisasi, misalnya berasas tingkat pendidikan tertentu dan jumlah tahun pengalaman nan dimiliki karyawan, tanpa memandang gender," tutur Taylor. "Bagi pemberi kerja, melakukan upaya menciptakan kesetaraan ini sangat sepadan. Hal ini lebih baik bagi organisasi jika terdapat kesetaraan nan lebih besar." (Earth/Z-2)

Selengkapnya