Ilustrasi(Magnific)
SETIAP bulan Agustus, organisasi kesehatan dunia memperingati Psoriasis Awareness Month alias Bulan Kesadaran Psoriasis. Peringatan tahunan ini ditujukan untuk memperluas pemahaman publik mengenai psoriasis, mengikis stigma di masyarakat, serta memberikan support moral bagi jutaan penderitanya di seluruh dunia.
Berdasarkan info lembaga kesehatan internasional, psoriasis diperkirakan dialami oleh lebih dari 125 juta orang secara dunia dan sekitar 8 juta orang di Amerika Serikat. Kendati jumlah penderitanya terbilang besar, tetap banyak miskonsepsi nan beredar mengenai penyakit ini.
Bukan Sekadar Masalah Kulit Luar
Psoriasis merupakan penyakit autoimun kronis di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru mempercepat proses regenerasi sel kulit. Normalnya, sel kulit berganti dalam hitungan minggu. Namun pada penderita psoriasis, sel-sel kulit baru tumbuh hanya dalam beberapa hari. Penumpukan sel nan sigap ini membentuk plak tebal kemerahan berlapisi sisik keperakan nan sering kali terasa gatal, perih, dan panas.
Selain ruam bentuk pada kulit, kondisi ini memberikan akibat psikologis nan cukup mendalam. Rasa malu akibat perubahan penampilan bentuk sering membikin penderita mengalami kecemasan, depresi, hingga isolasi sosial. Banyak pasien merasa canggung berada di ruang publik lantaran persepsi keliru dari masyarakat sekitar.
Mitos Paling Umum: Psoriasis Tidak Menular
Salah satu konsentrasi utama dari edukasi di Bulan Kesadaran Psoriasis adalah meluruskan mitos mengenai penularan. Psoriasis sama sekali tidak menular. Penyakit ini tidak dapat beranjak melalui kontak bentuk langsung, berbagi makanan alias minuman, maupun penggunaan akomodasi umum seperti kolam renang dan bilik mandi. Psoriasis juga bukan dipicu oleh kebersihan diri nan buruk, melainkan murni aspek genetik dan gangguan sistem imun.
Selain itu, psoriasis sering kali berangkaian erat dengan masalah kesehatan lainnya alias komorbiditas. Penderita mempunyai akibat lebih tinggi terkena penyakit jantung kardiovaskular, glukosuria jenis 2, hingga psoriatic arthritis (peradangan sendi nan menyertai psoriasis).
Peran Pola Makan Anti-Inflamasi
Meskipun saat ini belum ada obat nan dapat menyembuhkan psoriasis secara total, gejalanya dapat dikendalikan melalui penanganan medis nan tepat dan penyesuaian style hidup. Salah satu pilar pengelolaan nan banyak disoroti para mahir adalah penerapan pola makan anti-inflamasi.
Pola makan berbasis diet Mediterania direkomendasikan untuk membantu meredakan peradangan sistemik. Beberapa langkah nutrisi nan disarankan meliputi:
- Konsumsi Asam Lemak Omega-3: Ikan berlemak seperti salmon, sarden, dan makarel, serta biji-bijian seperti chia seeds dan kacang kenari membantu menekan peradangan.
- Perbanyak Antioksidan: Buah-buahan segar, buah beri, dan sayuran hijau membantu melindungi sel dari stres oksidatif.
- Hindari Makanan Pemicu: Membatasi makanan olahan (ultra-processed foods), gula berlebih, daging olahan, dan minuman beralkohol nan dapat memicu alias memperparah peradangan.
Melalui edukasi nan berkepanjangan pada Bulan Kesadaran Psoriasis ini, masyarakat diharapkan semakin empati dan memahami bahwa penderita psoriasis memerlukan support sosial serta perawatan holistik demi kualitas hidup nan lebih baik. (Eating Well/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·