Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman meluruskan beragam info nan dinilainya sebagai tuduhan mengenai pembangunan pertanian di Papua, termasuk narasi nan menyebut tanah masyarakat dihargai kurang dari Rp100 ribu per hektar.
Pernyataan tersebut disampaikan Mentan Amran menjawab pertanyaan salah seorang peserta Resepsi Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Rapat Kerja Nasional IPM bertema "Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak" di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (18/7).
Dalam sesi dialog, Muhammad Tamim Setiaji, delegasi IPM dari Kota Tangerang Selatan, Banten, menyinggung beredarnya info bahwa lahan di Papua disebut-sebut diambil secara tidak wajar dengan nilai kurang dari Rp100 ribu per hektar. Ia juga meminta penjelasan agar generasi muda bisa memandang persoalan secara logis di tengah banyaknya info nan beredar.
Menanggapi perihal tersebut, Amran menegaskan, bahwa info tersebut merupakan tuduhan nan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Fitnah itu bertebaran. Salah satunya nilai tanah Rp100 ribu per hektare. Itu tuduhan nan sangat sadis terhadap pemerintah, termasuk kepada kami nan menjalankan program. Padahal faktanya sama sekali tidak demikian," tegas Amran dalam keterangan resmi, Senin (20/7/2026).
Amran menjelaskan, program pengembangan lahan pertanian di Papua tidak dilakukan dengan mengambil alih kepemilikan tanah masyarakat. Sebaliknya, pemerintah membangun lahan sawah nan sepenuhnya menjadi milik masyarakat, komplit dengan support prasarana dan perangkat mesin pertanian.
Menurut Amran, hingga saat ini pemerintah telah membangun sekitar 137 ribu hektar lahan pertanian di Papua. Seluruh lahan tersebut tetap menjadi milik masyarakat setempat, sementara pemerintah memberikan beragam akomodasi secara cuma-cuma untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
"Sawah itu milik rakyat. Tidak ada nan menjadi milik negara. Alat mesin pertanian kami berikan gratis. Irigasi kami bangun. Bahkan support nan diberikan nilainya mencapai triliunan rupiah. Semua itu untuk masyarakat," ujarnya.
Amran menambahkan, pemerintah juga mengirimkan ratusan perangkat pertanian, membentuk Brigade Pangan, membangun jaringan irigasi, hingga mendukung pengembangan komoditas sesuai kearifan lokal seperti sagu dan kelapa. Ia mengungkapkan, beragam narasi negatif nan beredar justru bertolak belakang dengan realita di lapangan. Banyak masyarakat Papua nan telah merasakan langsung faedah program tersebut melalui peningkatan pendapatan dan kesempatan mengelola lahan secara mandiri.
Amran mencontohkan testimoni petani nan memperoleh lahan garapan 3 hingga 4 hektar dan bisa meraih pendapatan bersih hingga belasan juta rupiah setiap bulan.
"Petani di sana menyampaikan sendiri bahwa mereka mendapat lahan untuk dikelola dan penghasilannya meningkat hingga sekitar Rp15 juta sampai Rp20 juta per bulan. Traktor juga menjadi milik mereka. Ini kebenaran di lapangan," katanya.
Amran juga mengungkapkan, bahwa saat melakukan kunjungan kerja ke Papua, dirinya justru menerima aspirasi masyarakat nan meminta agar program cetak sawah diperluas ke wilayah mereka.
"Ketika saya di airport hendak pulang, masyarakat mencegat saya bukan untuk menolak, tetapi meminta tambahan lahan cetak sawah hingga ribuan hektare. Mereka mau ikut merasakan faedah program ini. Itu kebenaran nan saya alami langsung," tukasnya.
Menurut Amran, keberhasilan pembangunan pertanian di Papua tidak hanya mendapat support masyarakat setempat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah
mewujudkan pemerataan pembangunan nasional sebagaimana pengarahan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, Amran membujuk generasi muda agar tidak mudah terpengaruh info nan belum terverifikasi, terutama narasi nan berpotensi memecah persatuan bangsa.
"Saya membujuk adik-adik semua untuk memandang fakta. Jangan langsung percaya pada narasi alias movie nan belum tentu sesuai kenyataan. Mari kita cek langsung, dengarkan masyarakat nan menerima manfaatnya," ujarnya.
Dalam kesempatan nan sama, Amran juga mendorong kader IPM menjadi generasi nan produktif dengan memanfaatkan setiap jengkal lahan nan tersedia, termasuk di area perkotaan. Menjawab pertanyaan peserta lain mengenai pertanian urban, Amran menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian mempunyai beragam program pemberdayaan masyarakat, salah satunya Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) nan mendorong pemanfaatan pekarangan untuk menanam kebutuhan pangan sehari-hari.
"Kalau mau mulai, tanam cabe di lima pot saja di rumah. Dengan memanfaatkan pekarangan, kebutuhan cabe family bisa dipenuhi sendiri. nan krusial mulai dari perihal mini dan jangan biarkan ada lahan nan menganggur," pesannya.
Di hadapan sekitar 2.000 kader IPM, Mentan Amran juga membujuk generasi muda terus membangun semangat kerja keras, tidak mudah menyerah, serta menjadikan setiap tantangan sebagai motivasi untuk berprestasi.
"Jangan pernah menyerah. Terus belajar, terus bekerja, dan jadikan setiap tantangan sebagai injakan untuk sukses. Indonesia memerlukan generasi muda nan produktif, kritis, tetapi tetap berpijak pada fakta," pungkas Amran.
(bul/bul)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·