Jakarta, CNBC Indonesia — Nasib tragis menimpa salah satu menteri pada awal berdirinya Republik Indonesia. Otto Iskandar Dinata alias Otista, nan menjabat sebagai Menteri Negara usai Proklamasi Kemerdekaan, diculik golongan bersenjata dan menghilang tanpa jejak.
Penculikan itu diduga tak lepas dari operasi propaganda pihak asing nan mau memecah persatuan Indonesia. Sebagai informasi, Otto merupakan tokoh krusial dalam perjuangan kemerdekaan.
Dalam kitab Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories (2017), penulis Iip D. Yahya mengungkapkan bahwa penculikan terhadap Otista dipicu rumor nan disebarkan agen-agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
"Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda," tulis Iip. Isu tersebut diduga sengaja diembuskan untuk menyingkirkan tokoh nan dinilai bisa memperkuat persatuan bangsa.
Sebelum menjadi menteri, Otto dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan nasional. Dalam kitab Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata (2003), disebutkan bahwa sejak dasawarsa 1920-an dia aktif di organisasi Boedi Oetomo. Menjelang kemerdekaan, Otto juga menjadi personil Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) serta Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengangkat Otto sebagai Menteri Negara. Saat itu, pemerintah menghadapi tantangan besar lantaran kondisi keamanan tetap belum stabil dan belum mempunyai angkatan bersenjata nan terorganisasi secara utuh.
Otto mendapat tugas membantu pembentukan kekuatan militer nasional. Namun, proses tersebut tidak melangkah mudah. Berbagai golongan bersenjata nan berasal dari jejak personil PETA, Heiho, hingga eks tentara KNIL mempunyai kepentingan dan loyalitas berbeda sehingga menimbulkan bentrok internal.
Ketegangan itu mencapai puncaknya pada 19 Desember 1945. Otto diculik oleh golongan bersenjata Laskar Hitam di Tangerang, kemudian dibawa ke area Pantai Mauk. Sejak saat itu, keberadaannya tidak pernah diketahui lagi.
Iip D. Yahya juga mencatat bahwa di kalangan Laskar Hitam beredar tuduhan lain nan menyebut Otto menguasai biaya sebesar satu juta gulden Belanda. Menurunya, tuduhan tersebut digunakan untuk memperkuat narasi bahwa Otto berpihak kepada Belanda. Padahal, duit itu merupakan hasil rampasan perang dari Jepang nan memang tetap menggunakan mata duit gulden Belanda.
Hingga kini, nasib Otto Iskandar Dinata tetap menjadi misteri. Ia diduga dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut, tetapi tidak pernah ditemukan bukti nan memastikan perihal tersebut. Karena tidak ada kepastian mengenai keberadaannya, pemerintah kemudian menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto.
Tujuh tahun setelah peristiwa penculikan itu, pemerintah menggelar pemakaman simbolis di Bandung. Peti jenazah nan dimakamkan tidak berisi jasad Otto, melainkan hanya pasir dan air laut sebagai simbol penghormatan kepada salah satu tokoh perjuangan nan lenyap tanpa jejak. Makam simbolis tersebut sekarang berada di Monumen Pasir Pahlawan.
(tfa/mkh)
Addsource on Google

2 hari yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·