Ilustrasi(MI/Dok NASA)
LUAR angkasa selama ini dikenal sebagai lingkungan ekstrem nan mustahil dihuni manusia tanpa perlindungan khusus. Astronot memerlukan baju antariksa canggih untuk menyuplai oksigen dan melindungi tubuh dari radiasi serta suhu ekstrem. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketangguhan hidup tidak hanya milik manusia dengan teknologinya, melainkan juga organisme mikroskopis asal Bumi.
Dikutip dari NASA, sejumlah mikroba nan berpotensi terbawa oleh manusia dalam misi luar angkasa diperkirakan bisa memperkuat hidup di beberapa area teduh di sekitar Kutub Selatan Bulan. Temuan ini merupakan hasil pemetaan kondisi lingkungan Bulan nan dibandingkan dengan periode pemisah keahlian memperkuat beragam mikroorganisme.
Jejak Mikroba nan Tak Terhindarkan
Kehadiran mikroba dalam misi eksplorasi antariksa nyaris mustahil untuk dihindari sepenuhnya. Mikroorganisme ini dapat beranjak melalui tubuh astronot, serat pakaian, hingga peralatan di dalam kediaman nan digunakan. Oleh lantaran itu, pemahaman mengenai gimana mikroba ini berinteraksi dengan lingkungan Bulan menjadi prioritas krusial dalam misi masa depan.
Salah satu organisme nan menjadi sorotan utama adalah Aspergillus niger. Jamur nan umum ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ini dikenal mempunyai ketahanan luar biasa terhadap kondisi lingkungan nan keras. Selain jamur tersebut, para peneliti juga menguji beberapa jenis bakteri dan jamur lainnya.
Daftar Mikroba nan Diuji dalam Penelitian:
| Bakteri | Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus, Deinococcus radiodurans |
| Jamur | Aspergillus niger, Fusarium sp. |
Zona Perlindungan di Kutub Selatan
Kondisi di Kutub Selatan Bulan mempunyai karakter unik. Bentuk permukaan nan terdiri dari punggung kawah, pegunungan, dan cekungan dalam menciptakan wilayah nan selalu terhalang dari sinar Matahari langsung. Wilayah teduh ini relatif lebih terlindungi dari radiasi mematikan.
Menggunakan info ketinggian dan suhu dari Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO), peneliti memetakan letak nan disebut sebagai survivable niches. Ini adalah lingkungan nan secara teoritis memungkinkan mikroba untuk tetap hidup. Skala wilayah ini bervariasi, mulai dari hamparan luas hingga area sekecil jejak sepatu astronot di permukaan Bulan.
Bertahan, bukan Berkembang Biak
Penting untuk dicatat bahwa keahlian "bertahan hidup" dalam konteks ini tidak berfaedah mikroba tersebut dapat tumbuh alias berkembang biak secara aktif. Peneliti mengategorikan mikroba sukses memperkuat jika organisme tersebut tetap hidup setidaknya selama satu hari dalam kondisi ekstrem nan diuji.
Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa Bulan menyediakan nutrisi alias kondisi nan diperlukan untuk pertumbuhan dan reproduksi mikroorganisme. Sebagian besar mikroba diperkirakan bakal berada dalam keadaan tidak aktif (dorman).
Laboratorium Alami Antariksa
Para intelektual menilai Bulan dapat berfaedah sebagai laboratorium alami untuk mempelajari pemisah keahlian hidup organisme dalam lingkungan nan susah direplikasi di Bumi. Karakterisasi lingkungan Bulan sebelum aktivitas manusia semakin masif menjadi sangat krusial.
Langkah ini bermaksud agar di masa depan, para intelektual dapat membedakan perubahan lingkungan nan disebabkan oleh kontaminasi manusia dengan kondisi alami Bulan nan sebenarnya. Eksplorasi nan bertanggung jawab menjadi kunci dalam menjaga integritas ilmiah di satelit alami Bumi tersebut. (nasa/Z-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·