Mimpi Emas di Sangihe, Membangun Kesejahteraan hingga Pariwisata

1 jam yang lalu 4
Mimpi Emas di Sangihe, Membangun Kesejahteraan hingga Pariwisata Aksi para pekerja di PT Tambang Mas Sangihe (TMS) di Sangihe, Sulawesi Utara.(Dok.TMS)

DI Pulau Sangihe, Sulawesi Utara, emas bukanlah temuan baru. Kandungan logam mulia itu telah lama menjadi bagian dari cerita tentang pulau di bibir utara Indonesia. Namun, di tengah kekayaan tersebut, masyarakat tetap bergulat dengan persoalan klasik, lapangan kerja nan terbatas, pasokan listrik nan belum sepenuhnya andal, serta kesempatan ekonomi nan belum berkembang secepat potensi alamnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, persoalan lain ikut membayangi. Aktivitas pertambangan terlarangan berkembang dan menyisakan kerusakan lingkungan di sejumlah kawasan. Nilai ekonomi nan dihasilkan mengalir keluar, sementara faedah bagi masyarakat lokal dinilai tetap terbatas.

Di tengah situasi itu, PT Tambang Mas Sangihe (TMS) menawarkan narasi berbeda. Perusahaan nan tetap menunggu kepastian operasional ini menyatakan mau menjadikan pertambangan sebagai pintu masuk bagi pembangunan ekonomi nan lebih luas, bukan sekadar menambang emas, tetapi menanam bibit kemakmuran.

"Jika masyarakat Sangihe sejahtera, maka kami juga bakal sejahtera. Kami memperkirakan berada di Sangihe sekitar 20 tahun. Karena itu, menjadi kepentingan kami membantu pulau ini berkembang," ujar Chief Executive Officer PT TMS, Terrence Filbert.

Bagi Filbert, ukuran keberhasilan tambang tidak hanya dihitung dari produksi emas, tetapi juga dari akibat ekonomi nan tercipta di luar pagar konsesi. Ia membayangkan pendapatan pekerja bakal berputar di pasar tradisional, warung, jasa transportasi, hingga upaya mikro nan selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

LAPANGAN KERJA
Perusahaan memperkirakan bakal merekrut sekitar 100 pekerja pada tahap awal operasi. Jumlah itu ditargetkan meningkat hingga mendekati 1.000 orang ketika tambang beraksi penuh. PT TMS juga menyatakan bakal memprioritaskan tenaga kerja lokal dan menyiapkan training bagi penduduk nan belum mempunyai pengalaman di sektor pertambangan.

"Kami tidak hanya menciptakan lapangan kerja secara langsung. Akan ada pula pekerjaan tidak langsung nan muncul melalui sektor jasa, perdagangan, dan rantai pasok operasional perusahaan," katanya.

Berbeda dengan banyak proyek pertambangan nan berjuntai pada tenaga kerja dari luar daerah, PT TMS menyatakan bakal memprioritaskan perekrutan masyarakat lokal. 

Menurut Filbert, banyak penduduk Sangihe telah mempunyai pengalaman bekerja di industri pertambangan setelah sebelumnya bekerja di beragam proyek pertambangan di Sulawesi maupun Papua. Ketersediaan tenaga kerja berilmu tersebut menjadi untung tersendiri lantaran mengurangi kebutuhan perusahaan untuk merekrut pekerja dari luar pulau.

PENAMBANG RAKYAT
Namun, rencana perusahaan tidak berakhir pada sektor tambang. Filbert mengatakan TMS tengah mengkaji kemungkinan mendukung pembentukan area Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di area konsesi nan tidak digunakan perusahaan. Melalui skema tersebut, masyarakat diharapkan dapat menambang secara legal dengan pendampingan teknis dan akses terhadap akomodasi pengolahan emas.

"Setelah TMS memasuki tahap produksi dan menyelesaikan seluruh proses izin nan diperlukan berbareng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perusahaan bermaksud membentuk kawasan-kawasan nan sesuai sehingga para penambang lokal dapat beraksi secara legal melalui skema IPR," ujar Filbert.

Langkah ini diharapkan bisa mengatasi pertambangan terlarangan sekaligus memberdayakan masyarakat setempat dengan pendekatan nan terukur dan ramah lingkungan.

ENERGI DAN WISATA
Di sisi lain, perusahaan juga memandang potensi ekonomi Sangihe berada di luar kandungan mineralnya. Gugusan pulau nan berada di area Coral Triangle itu dinilai mempunyai daya tarik wisata selam nan belum dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Filbert, hambatan utama bukan pada kualitas destinasi, melainkan akses transportasi nan tetap terbatas. Karena itu, perusahaan membuka kesempatan bekerja sama dengan pelaku pariwisata dan maskapai penerbangan untuk meningkatkan konektivitas menuju Sangihe. "Sangihe mempunyai potensi wisata selam nan luar biasa. Tantangannya adalah gimana orang lebih mudah datang ke sini," katanya.

PEMBANGKIT LISTRIK
Rencana lain nan diungkapkan perusahaan adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di sekitar Gunung Awu. Menurut Filbert, pasokan listrik nan lebih murah dan stabil bakal menjadi fondasi bagi tumbuhnya sektor lain, mulai dari perikanan, industri pengolahan, hingga upaya berbasis rantai dingin. Listrik nan terjangkau bukan hanya kebutuhan operasional, tetapi investasi bagi daya saing ekonomi jangka panjang," ujarnya.

Bagi masyarakat Sangihe, seluruh rencana itu tetap berada di atas kertas. Realisasinya berjuntai pada proses perizinan, investasi, support pemerintah, serta keahlian perusahaan membangun kepercayaan dengan masyarakat.

Pulau Sangihe hari ini berada di persimpangan. Di satu sisi, kekayaan emasnya terus menjadi sumber perdebatan. Di sisi lain, muncul angan bahwa sumber daya alam dapat menjadi titik awal lahirnya ekonomi nan lebih beragam, bukan sekadar menghasilkan logam mulia.

Filbert meyakini visi tersebut bakal terwujud dalam 20 tahun ke depan. Sementara, bagi masyarakat di pulau perbatasan ini, ukuran keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya emas nan diangkat dari perut bumi, melainkan seberapa besar manfaatnya betul-betul tinggal dan dirasakan di tanah tempat emas itu berasal.

"Ukuran keberhasilan nan sesungguhnya adalah sejauh mana PT TMS bisa memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, penyediaan energi, pengembangan pariwisata, pertumbuhan upaya lokal, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat Sangihe secara keseluruhan," pungkasnya. (E-2)

Selengkapnya