Mirip Lukisan Van Gogh! Kamera Energi Gelap Potret Keindahan 'The Starry Night' di Luar Angkasa

4 hari yang lalu 10
Mirip Lukisan Van Gogh! Kamera Energi Gelap Potret Keindahan 'The Starry Night' di Luar Angkasa Pemandangan menakjubkan dari Awan Molekuler Corona Australis, salah satu wilayah pembentukan bintang terdekat dengan Bumi, mengingatkan pada lukisan Van Gogh, The Starry Night.(Dark Energy Survey/ DOE/ FNAL/ DECam/ CTIO/NOIRLab/NSF/AURA)

PROYEK pembuatan ulang alias remake sebuah karya seni mungkin sudah biasa kita temui dalam bumi sinematografi. Namun, gimana jika alam semesta itu sendiri nan memproduksi ulang salah satu mahakarya lukisan paling ikonik di dunia?

Baru-baru ini, Kamera Energi Gelap (DECam) sukses menangkap pemandangan bergerak dan memukau dari wilayah pembibitan bintang berjulukan Awan Molekuler Corona Australis. Menariknya, visualisasi wilayah pembentukan bintang ini terlihat sangat mirip dengan sapuan kuas legendaris Vincent van Gogh dalam lukisan termasyhurnya, The Starry Night.

Awan Molekuler Corona Australis diperkirakan mempunyai diameter sekitar 16 tahun cahaya. Wilayah ini terletak sejauh 430 tahun sinar dari Bumi, menjadikannya salah satu pembibitan bintang nan posisinya paling dekat dengan tata surya kita. Di sebelah kiri gambar DECam, tampak jalur gas dan debu gelap berputar-putar, nan tidak lain merupakan bahan baku utama dari proses terciptanya sebuah bintang baru.

Visualisasi nan menakjubkan ini kian dipercantik oleh kehadiran nebula refleksi NGC 6729 nan bercahaya terang pada sisi kiri gambar. Nebula ini terbentuk dari awan debu antarbintang nan memantulkan sinar terang dari bintang-bintang muda nan baru lahir di dalam awan molekuler tersebut.

Di dalam area NGC 6729, para astronom juga mendeteksi keberadaan awan jingga nan merupakan sistem bintang biner berjulukan R Coronae Australis. Sistem biner ini terdiri dari bintang pra-deret utama (pre-main-sequence star), sebuah bintang nan telah mengumpulkan massa tetapi belum memicu fusi hidrogen menjadi helium di intinya, serta sebuah bintang katai merah sebagai pendampingnya. Kedua bintang ini saling mengorbit satu sama lain setiap 43 hingga 47 tahun sekali dan memancarkan sinar nan sangat terang. Cahaya inilah nan mengionisasi gas di sekitarnya hingga menciptakan nebula emisi nan bercahaya di area tersebut.

Keindahan potret kosmik ini tidak berakhir di situ. Pada perspektif kanan atas gambar, tampak gugus bintang bola NGC 6723 nan bercahaya gemerlap bak lampu kristal, sehingga dijuluki sebagai Chandelier Cluster. Berjarak sekitar 29.000 tahun sinar dari Bumi, gugus ini diperkirakan menyimpan deretan bintang paling tua di galaksi Bimasakti. Chandelier Cluster menampung puluhan ribu hingga jutaan bintang, di mana sebagian besarnya merupakan bintang purba, meski terdapat pula beberapa bintang muda di dalam strukturnya nan berbentuk bola.

Kawasan Awan Molekuler Corona Australis dan Gugus Bintang Chandelier sebenarnya sudah sangat familier bagi kalangan astronom maupun astrofotografer dari beragam tingkatan. Kendati demikian, sebagaimana dibutuhkan visi artistik seorang Van Gogh untuk mengubah langit malam menjadi lukisan nan luar biasa, dibutuhkan pula kekuatan observasi mutakhir dari DECam untuk memancarkan keelokan tersembunyi dari perspektif langit malam ini.

Sebagai informasi, kamera canggih DECam ini dipasang pada Teleskop 4 meter Víctor M. Blanco nan berada di Cerro Tololo Inter-American Observatory (CTIO) di Cile, sebuah akomodasi milik National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat. (space/Z-2)

Selengkapnya