Misbakhun Bocorkan Sosok yang Tepat Jadi Gubernur BI

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun membeberkan kriteria sosok nan cocok untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) baru, penggati Perry Warjiyo yang telah mengundurkan diri sejak 25 Juli 2026.

Paling utama, kata Misbakhun adalah sosok nan bisa mewujudkan apa nan menjadi mandat Undang-Undang BI dan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

"Mandat itu jelas disebutkan, contoh mandat terbaru adalah di mana bank sentral itu mempunyai tanggung jawab
dalam rangka menjaga stabilisasi sistem keuangan. Dia juga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan upaya
peningkatan pertumbuhan, menciptakan lapangan pekerjaan," kata Misbakhun dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Kamis (6/8/2026).

Misbakhun mengatakan banget krusial bagi ketua BI memahami mandat dalam Undang-Undang Bi maupun P2SK agar bisa melanjutkan sinergi fiskal-moneter antara bank sentral dan pemerintah.

Sinergi antara fiskal dan moneter tersebut, dalam rangka sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dan mencapai visi pertumbuhan ekonomi delapan persen.

"Jadi engine fiscal policy dan monetary policy itu berada dalam satu trajektori nan sama untuk menuju ke pertumbuhan 8% ini," ucap Misbakhun.

Tak hanya dengan pemerintah, sinergi juga perlu dibangun berbareng Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) nan terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia sendiri, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Tujuannya adalah untuk mencapai visi dan misi negara, ialah kesejahteraan nan bisa dicapai jika ekonomi bisa bertumbuh.

"Tujuannya semua lembaga negara nan ada itu adalah konstitusi, mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat bisa dicapai dengan apa? Ya salah satunya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi."

Selain itu, ketua BI nantinya bisa melakukan operasi moneter nan dapat menumbuhkan ekonomi, seperti menyediakan kesiapan likuiditas sehingga bisa diserap ekonomi, menumbuhkan investasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

"Operasi-operasi moneter kita adalah operasi moneter nan gimana memberikan akibat penguatan terhadap sektor riil. Perbankan merasa dibantu, bukan perbankan nan merasa bahwa dananya diambil di GWM, kemudian dari GWM itu dikelola oleh bank sentral untuk kemudian dijadikan instrumen
kebijakan moneter," tegas Misbakhun.

"Nah, kebijakan-kebijakan nan lebih baru, lebih modern itu kudu dibuat," lanjutnya.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya