Pemandangan bulan es Jupiter, Europa, ini diabadikan oleh JunoCam, kamera untuk keterlibatan publik nan terpasang di pesawat ruang angkasa Juno milik NASA, selama penerbangan dekat misi tersebut pada 29 September 2022.(Data gambar: NASA/JPL-Caltech/SwRI/MSSS | Pemrosesan gambar: Kevin M. Gill CC BY 3.0)
WAHANA antariksa Europa Clipper milik NASA saat ini tengah menempuh perjalanan sejauh 1,8 miliar mil menuju Yupiter untuk meneliti potensi kehidupan di bulan es berjulukan Europa. Berdasarkan info misi berhistoris Voyager dan Galileo, para intelektual mengetahui bahwa Europa menyembunyikan samudra dunia di kembali kerak esnya, dengan volume air lebih dari dua kali lipat campuran seluruh samudra di Bumi.
Dalam 49 kali penerbangan melintas dekat nan direncanakan, para intelektual berambisi Europa Clipper dapat mendeteksi semburan air raksasa (plumes) alias kantong permukaan hangat dari samudra bawah tanah tersebut. Keberadaan kantong air ini dinilai dapat mempermudah kajian kimia samudra dari orbit.
Namun, studi terbaru mengindikasikan air dangkal nan nantinya terdeteksi mungkin bukanlah jalan masuk langsung ke samudra Europa. Penelitian nan dipimpin intelektual planet Lujendra Ojha dari Rutgers University menunjukkan lapisan es Europa berfaedah sebagai penghalang nan jauh lebih handal daripada nan diperkirakan sebelumnya.
Simulasi komputer memperlihatkan air cair nan naik dari samudra melalui retakan es bakal bergerak secara turbulen, kehilangan panas dengan cepat, dan membekukan retakan tersebut hanya dalam hitungan jam sebelum mencapai kedalaman dangkal.
"Ada lapisan es, ada air di bawahnya, dan ada semua spekulasi tentang gimana air tersebut dapat keluar dari kedalaman tanah dan sampai ke atas tanpa membeku di jalan," kata Ojha dalam sebuah pernyataan. "Hal itulah nan kami yakini telah kami bantah."
Riset terdahulu mengasumsikan air bakal mengalir lancar. Namun, simulasi tim Ojha menunjukkan bahwa air nan naik justru berolak secara turbulen menghantam tembok retakan nan sangat dingin.
"Air itu bakal bergerak ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah, serta mempunyai aktivitas berputar," ujar Ojha. "Dan ketika itu terjadi, air cair tersebut bakal mendingin sangat, sangat sigap saat mendekati permukaan."
Pendinginan nan sangat sigap ini memicu proses supercooling, ialah kondisi air tetap cair di bawah titik kaku standarnya. Fenomena ini memicu pembentukan kristal es mini menyerupai lumpur nan disebut frazil ice, nan kemudian menyumbat jalur aliran air tersebut.
Meski retakan nan lebih lebar secara teoritis dapat membawa volume air lebih besar, hasil studi menyatakan bahwa untuk mencegah pembekuan total, saluran tersebut kudu "sangat panjang secara tidak realistis alias muncul dalam jumlah nan sangat banyak."
Temuan ini dapat mengubah langkah intelektual menginterpretasikan info dari Europa Clipper nan dijadwalkan tiba di Yupiter pada April 2030, serta misi Jupiter Icy Moons Explorer (JUICE) milik Badan Antariksa Eropa nan tiba pada Juli 2031. Jika wahana tersebut menemukan kolam air dangkal, fitur tersebut kemungkinan besar terbentuk dari pencairan lokal di dalam lapisan es itu sendiri, bukan luapan langsung dari samudra dalam.
"Ini membantu misi masa depan menginterpretasikan apa nan mereka temukan dan memahami dengan lebih baik di mana kudu mencari tanda-tanda kepantasan huni," pungkas Ojha.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada 23 Juli dalam jurnal Nature Astronomy. (Space/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·