Misteri Hilangnya Perak di Matahari Akhirnya Terpecahkan setelah Puluhan Tahun

9 jam yang lalu 4
Misteri Hilangnya Perak di Matahari Akhirnya Terpecahkan setelah Puluhan Tahun Ilustrasi(Doc NASA Space Place)

SELAMA puluhan tahun, para astronom dihadapkan pada teka-teki astronomi nan mengganjal: keberadaan unsur perak di Matahari nan dinilai jauh lebih sedikit daripada nan seharusnya. Padahal, secara teoritis, Matahari dan meteorit di tata surya kita terbentuk dari awan gas dan debu raksasa nan sama sekitar 4,6 miliar tahun lalu.

Meteorit kuno nan berfaedah sebagai kapsul waktu alami menjadi tolok ukur komposisi kimia awal tata surya. Namun, setiap kali intelektual mengukur kandungan perak pada Matahari, angkanya selalu konsisten berada di bawah perkiraan.

Kini, misteri janggal tersebut akhirnya sukses terpecahkan. Penelitian nan dipimpin oleh Sema Caliskan dari Universitas Uppsala, Swedia, mengungkapkan bahwa perak di Matahari sebenarnya tidak pernah hilang. Kesalahan selama ini terletak pada metode pemodelan nan kurang jeli dalam membaca spektrum sinar Matahari.

Untuk mengetahui kandungan sebuah bintang, astronom mengawasi garis spektrum sinar nan diserap oleh atom-atom unsur di atmosfer bintang. Setiap unsur mempunyai "sidik jari" berupa garis penyerapan spektrum khusus. 

Namun, model atmosfer Matahari nan digunakan oleh para intelektual sebelumnya dinilai terlalu disederhanakan dan mengabaikan dinamika lapisan luar Matahari nan sangat turbulen. Selain itu, hubungan fisika atom perak terhadap sinar sekitar juga belum dihitung secara presisi.

Dengan menerapkan pemodelan atmosfer baru nan jauh lebih kompleks dan realistis, tim peneliti memperhitungkan secara mendalam gimana atom perak berinteraksi dengan sinar di lapisan luar Matahari nan dinamis. 

Hasil kalkulasi ulang tersebut membawa kejutan besar, kandungan perak di Matahari rupanya 55 persen lebih banyak dari perkiraan nan diyakini sebelumnya. Lonjakan nomor 55 persen ini secara otomatis menyelaraskan kadar perak Matahari dengan komposisi kimia pada meteorit purba, sehingga ketidaksesuaian nan memusingkan para mahir selama puluhan tahun resmi teratasi.

"Pengetahuan baru tentang komposisi Matahari ini sangat krusial untuk memahami bintang, planet, dan materi kosmik lainnya, lantaran Matahari adalah salah satu titik referensi utama dalam astronomi," ujar Sema Caliskan, penulis utama studi tersebut.

Temuan nan telah dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics ini mempunyai makna krusial bagi bumi astronomi. Karena pemodelan baru ini terbukti sukses pada Matahari, para peneliti berencana menerapkan metode nan sama untuk mempelajari bintang-bintang lain dengan beragam ragam usia dan jenis. 

Langkah ini diharapkan dapat membantu intelektual melacak asal-usul pembentukan perak di alam semesta serta gimana unsur berat tersebut tersebar di seluruh galaksi Bima Sakti sepanjang sejarah waktu.

Sumber: Gizmodo, Universe Today

Selengkapnya