Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah biaya hidup nan makin tinggi dan style hidup anak muda nan kian praktis, muncul kejadian baru di tengah generasi Z, ialah ramai-ramai memilih menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Jika dulu pernikahan identik dengan gedung, pelaminan, ratusan tamu, dan pesta nan disiapkan berbulan-bulan, sekarang sebagian pasangan muda justru merasa cukup dengan janji sederhana di balai nikah, lampau makan berbareng family inti.
Fenomena ini tak datang tanpa sebab. Ada nan melihatnya sebagai langkah menekan biaya, ada nan menganggapnya sebagai pilihan hidup nan lebih simpel, ada pula nan menilai ini sebagai perubahan langkah pandang anak muda terhadap pernikahan itu sendiri. Di sisi lain, tren ini ikut menggoyang pola upaya industri wedding, dari wedding organizer (WO), dekorasi, catering, sampai penyedia jasa pendukung lain nan selama ini hidup dari pesta skala besar.
Penghulu di KUA Setiabudi Abdul Hamid termasuk nan memandang perubahan itu langsung dari lapangan. Ia mengatakan, belakangan semakin banyak pasangan nan memilih menikah di KUA. Fenomena itu tak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi juga terlihat di sejumlah KUA lain di Jakarta.
"Iya betul, akhir-akhir ini banyak nan menikah di KUA. nan termasuk banyak tuh di KUA Tebet, nan saya sering lihat lantaran memang juga lumayan bagus sih balai nikahnya," ujar Hamid kepada CNBC Indonesia.
Di KUA Setiabudi sendiri, dia mengakui tren itu juga mulai terasa meski wilayah tersebut selama ini lebih banyak diisi pasangan nan menikah di gedung. Menurut dia, pasangan nan datang beragam, mulai dari Gen Z, milenial, hingga mereka nan menikah lagi. Namun pasangan Gen Z mendominasi.
"Kalau Kecamatan Setiabudi ini kebanyakan untuk pernikahan di gedung ya. Tetapi itu memang orang-orang nan kalangan menengah ke atas gitu. Tapi sekarang banyak Gen Z nan ini menikah di sini juga sih," katanya.
"Ada juga nan milenial. Kemudian mungkin juga nan menikah lagi, nan sudah pernah berpisah menikah lagi kebanyakan di KUA sih. Jarang untuk mereka menggelar pesta gitu," lanjut Hamid.
Menurut dia, tren itu mulai semakin terlihat setelah pandemi Covid-19, alias tepatnya sekitar tahun 2023 lalu.
Bagi Hamid, salah satu penjelasan paling sederhana adalah karakter Gen Z nan condong menyukai hal-hal praktis. Generasi ini tumbuh di era serba instan, ketika memesan makanan, berkomunikasi, hingga mengurus banyak perihal bisa dilakukan dengan cepat. Pola hidup seperti itu, menurut dia, terbawa sampai ke langkah mereka memandang pernikahan.
"Satu, mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal nan simpel. Karena memang hidupnya ini sekarang dia simpel. Seperti jika dulu itu kan serba susah, misalnya mau nelpon kita kudu pergi ke wartel ya. Terus misalnya kita mau chattingan itu kita SMS nan dulu penuh dengan kesabaran gitu kan, nan agak susah. Kalau sekarang Gen Z itu lantaran memang dilatih dari kehidupan nan serba simpel gitu, mau nge-chat, mau teleponan dan lain sebagainya gampang. Order makanan pun gampang, sehingga hal-hal itu nan memicu 'Ah pernikahan mending lebih baik simpel' gitu kan, lantaran kan intinya ijab kabul saja," tuturnya.
Selain aspek praktis, pertimbangan ekonomi juga dinilai ikut mendorong tren ini. Hamid mengatakan, banyak pasangan muda sekarang lebih berhitung. Uang nan tadinya bisa lenyap untuk pesta besar, sekarang lebih dipilih untuk kebutuhan setelah menikah.
"Yang kedua, mungkin dari ekonomi juga ya. Kan ekonomi kayaknya memang agak susah sekarang, jadi agak banyak memilih untuk di KUA saja nikahnya, untuk menghemat ekonomi gitu. Mungkin uangnya untuk ke depannya setelah menikah, betul mereka lebih memilih prospek uangnya digunakan untuk setelah nikah gitu loh, seperti mungkin ya honeymoon-nya, alias membangun upaya nan baru, alias membeli rumah, alias juga membeli properti nan lain," kata dia.
Hal nan sama juga dirasakan Kepala KUA Tebet Nasrulloh. Nasrulloh apalagi mengungkapkan makin banyak pasangan muda Gen Z nan menikah di KUA khususnya di tahun ini.
"Khusus untuk KUA Tebet biasanya dari persentase 20% nikah di KUA, 80% nikah di luar KUA. Nah di tahun 2026 ini naik 40% nikah di KUA, 60% nikah di Luar, kebanyakan iya nan nikah dari kalangan Gen Z meski ada beberapa di luar itu," beber dia.
Menurut Nasrulloh ada aspek utama nan membikin masyarakat sekarang lebih memilih menikah di KUA dibandingkan di gedung alias rumah.
"Kalau itu saya kurang tahu, tapi 1-2 pengantin bilang kita lebih duit ditabung masa depan daripada dihambur di aktivitas pesta," ujarnya.
Cerita itu terasa dekat dengan pengalaman Seruni Cantika, salah satu Gen Z nan memutuskan menikah di KUA. Bagi dia, keputusan itu bukan semata soal memangkas biaya, tetapi juga soal memilih prioritas.
"Alasan utamanya simple, dan mungkin banyak ya nan sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan. Karena pernikahan itu bukan suatu akhir, tapi awal dari perjalanan," ujar Seruni.
Ia bercerita, keputusan menikah di KUA berangkat dari pengalaman memandang orang terdekat memaksakan pesta mewah sampai berujung utang. Dari situ, dia justru semakin percaya tak mau menjadikan pernikahan sebagai beban keuangan.
"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu lantaran saya memandang sepupu saya nan bela-belain gelar pesta mewah tapi orang tuanya kudu terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta jika hanya bikin pusing sama utang. In this economy ya," katanya.
Meski tabungan sebenarnya cukup, Seruni mengaku tak tertarik dengan keribetan persiapan resepsi. Ia memilih janji sederhana, menyewa ahli foto untuk dokumentasi, memakai jasa makeup artist, lampau makan berbareng family inti di restoran.
"Lagipula, meski tabungan sudah kondusif ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya nan memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," ucap dia.
"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa ahli foto nan mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai janji di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan ahli foto nan disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," lanjut Seruni.
Untuk seremoni keluarga, dia hanya memesan makan untuk 30 orang di restoran keluarga. "Tetap ada, tapi saya hanya order 30 pax di salah satu restoran keluarga. Benar-benar family inti saja," katanya.
Dengan konsep itu, biaya nan dikeluarkan pun jauh lebih ringan dibanding pesta pada umumnya. "Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta alias Rp7 juta ya, soalnya rumah makan sundaan aja sih, nan per pax nya nggak sampai Rp200 ribu. Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan ahli foto saja. Hemat banget pokoknya," kata Seruni.
Bukan hanya Seruni, pasangan Gen Z lainnya Ade bersama Intan juga mengatakan perihal nan sama. Pasangan Gen Z nan menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA karena simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat duit mahar pernikahan bakal disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi janji nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan family di rumah," ucap Ade.
"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat kelak kebutuhan anak, duit kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.
Ade dan Intan menghilangkan kata pamor dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.
"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya.
Nikah di KUA Simpel Banget
Di sisi teknis, menikah di KUA memang relatif sederhana. Abdul Hamid menjelaskan, KUA menyediakan balai nikah, meja, dan bangku untuk akad. Jika pasangan mau hiasan tambahan, mereka dipersilahkan membawa sendiri.
"Kalau di KUA sebenarnya kita hanya menyediakan tempat. Biasanya mereka buat dekor lagi sendiri. Dia izin, kita mau dekor, silahkan jika nan mau dekor gitu. Bawa dekornya sendiri. Jadi di KUA itu hanya menyediakan tempat saja sih sebenarnya," kata Hamid.
Yang paling menarik, menikah di KUA pada hari kerja dan jam kerja tidak dipungut biaya.
"Tidak ada (dipungut biaya). Kalau di hari dan jam kerja itu tidak ada biaya sebenarnya. Sewa tempat pun nggak ada gitu. Jadi full gratis," ujarnya.
Meski begitu, pasangan tetap kudu mendaftar lebih dulu. "Oh jika pendaftaran kan kita 10 hari kerja, jadi H-10 sebelum janji itu calon manten sudah berikan berkas. Ya jika lewat dari itu menyiapkan surat lagi, pengecualian dari kelurahan alias surat pernyataan kenapa melangsungkan pernikahan di bawah 10 hari gitu," terang Hamid.
Hal nan sama juga diungkapkan Kepala KUA Tebet Nasrulloh. Nasrulloh bilang untuk menikah di KUA pun katanya cukup simpel. Sesuai regulasi, pasangan wajib melengkapi info seperti surat pengantar dari kelurahan hingga catatan kesehatan dari puskesmas.
"Dan surat rekomendasi nikah jika memang berasal dari luar tempat nikah. KTP KK itu juga wajib," ucapnya.
Dia menambahkan, banyak dari pasangan nan menikah di hari Jumat.
"Untuk nan nikah di KUA biasanya di hari Jumat, mungkin pemahaman masyarakat biasanya Jumat hari bagus ya," katanya.
(wur/wur)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·