Nakes Cibir Pasien BPJS Meninggal, Pramono Anung Beri Peringatan Keras

46 menit yang lalu 2
Nakes Cibir Pasien BPJS Meninggal, Pramono Anung Beri Peringatan Keras Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.(Dok. Pemprov DKI Jakarta)

GUBERNUR DKI Jakarta Pramono Anung menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk memberikan peringatan keras kepada tenaga kesehatan (nakes) nan mencibir pasien pengguna BPJS Kesehatan di media sosial. Langkah tegas ini diambil menyusul viralnya kasus seorang pasien BPJS nan meninggal bumi setelah diduga terlambat mendapatkan penanganan medis.

“Saya bakal minta kepada Dinas Kesehatan untuk memberikan peringatan. Karena BPJS Kesehatan dilindungi oleh undang-undang, apalagi ini bagi Jakarta adalah salah satu nan betul-betul saya jaga sekali,” tegas Pramono dilansir dari Antara, Kamis (6/8).

Persoalan ini bermulai dari curahan hati seorang pasien di platform Threads nan mengeluhkan sulitnya mendapatkan ruang perawatan meski telah menunggu selama delapan jam. Alih-alih mendapat simpati, unggahan tersebut justru dibalas dengan komentar negatif dan cibiran oleh sejumlah oknum nakes. Pasien tersebut kemudian dilaporkan meninggal dunia, nan memicu kemarahan publik.

Pramono juga telah meminta Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi DKI Jakarta, Premi Lasari, untuk mempelajari secara mendalam kasus pencibiran tersebut guna menentukan langkah disiplin lebih lanjut. Meski beberapa nakes telah menyampaikan permohonan maaf secara tertulis dan video, Pemprov DKI tetap memandang serius masalah etika ini.

Menanggapi kejadian tersebut, Guru Besar Kedokteran Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan pentingnya empati dalam pelayanan kesehatan. Menurutnya, master dan nakes tidak hanya bekerja mengobati secara fisik, tetapi juga kudu memahami tekanan mental nan dihadapi pasien.

“Dokter bukan hanya memeriksa dan mengobati, tetapi juga merasakan apa nan dialami pasiennya dan memberikan empati sesuai keadaan nan dialami pasien,” ujar Tjandra.

Tjandra juga menyoroti kebenaran bahwa pasien kudu menunggu hingga delapan jam tanpa kepastian ruang rawat. Ia menilai kondisi ini sangat memprihatinkan dan menjadi potret nyata tantangan manajemen pelayanan kesehatan di Indonesia nan kudu segera dibenahi agar tidak ada lagi pasien nan terlantar di rumah sakit. (Ant/Z-10)

Selengkapnya