Jakarta, CNBC Indonesia - Tantangan fiskal nan berat beberapa tahun terakhir mendorong pemerintah Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi mengambil langkah garang untuk mencari dana. Pemerintah berupaya menghimpun 314 miliar rupee (sekitar Rp59 triliun (asumsi kurs Rp17.900/US$), dengan mengurangi kepemilikannya di Life Insurance Corporation of India (LIC).
Dilaporkan Reuters dan CNBC International, Kamis (6/8/2026), pemerintah India sendiri menawarkan hingga 6,5% saham LIC kepada penanammodal lembaga dan ritel dengan nilai 382 rupee per saham. Nilai tersebut mencerminkan potongan nilai sekitar 11% dibanding nilai penutupan saham sebelumnya.
Diskon itu dinilai tetap wajar mengingat kondisi pasar nan bergolak dan persaingan nan semakin ketat di industri asuransi jiwa. Langkah ini diharapkan membuka jalan bagi penjualan aset negara lainnya.
Memperkuat Neraca Keuangan nan Tertekan
Divestasi ini merupakan bagian dari sasaran pemerintah untuk mengumpulkan 800 miliar rupee pada tahun fiskal nan berhujung Maret 2027. Dana tersebut diyakini bakal membantu memperkuat neraca finansial negara nan tertekan akibat perang terutama bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah.
Sebenarnya, penjualan saham nan dilakukan pemerintah tak berakhir di sini. India juga bakal melakukannya di perusahaan tambang batu bara Coal India senilai sekitar US$27 miliar dan produsen listrik tenaga air NHPC.
"Total biaya nan telah terkumpul diperkirakan mencapai 526 miliar rupee, alias sekitar dua pertiga dari sasaran tahunan," tulis laporan Reuters, dikutip Kamis (6/8/2026).
Sebelumnya tahun lalu, Goldman Sachs ditunjuk untuk mengelola penjualan saham di empat bank milik negara, termasuk UCO Bank dan Punjab and Sind Bank. Pemerintah juga berpotensi menghidupkan kembali proses penjualan bank menegah India, IDBI Bank, nan didukung LIC.
Menurut laporan Reuters nan mengutip sejumlah sumber, bank tersebut menerima penawaran baru bulan lampau dari perusahaan investasi Kanada, Fairfax Financial Holdings, dan bank asal Uni Emirat Arab (UEA), Emirates NBD. Tekanan terhadap kondisi fiskal diperkirakan bakal memaksa pemerintah India bertindak lebih garang dan imajinatif dalam mencari sumber pendanaan baru.
Penerimaan Negara Melemah dan Defisit Fiskal
Di sisi lain, penerimaan negara juga melemah setelah pemerintah memangkas sejumlah tarif pajak tidak langsung. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintah bakal melampaui sasaran defisit fiskal sebesar 4,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun ini.
Sementara itu, analis ANZ memperingatkan bahwa kenaikan subsidi pupuk serta biaya pembayaran utang berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga 0,3% PDB. Tekanan tersebut diperkirakan bakal mendorong pemerintah mempercepat program divestasi aset negara.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

52 menit yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·