Sketsa memperlihatkan presiden terguling Venezuela Nicolas Maduro berbareng istrinya, Cilia Flores, menghadiri sidang di Amerika Serikat.(AFP/Jane ROSENBERG)
MANTAN Presiden Venezuela nan digulingkan, Nicolás Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores, dijadwalkan bakal mulai menjalani persidangan di New York pada 1 Juni 2027. Keputusan ini ditetapkan oleh Hakim Alvin Hellerstein dalam persidangan nan berjalan pada Rabu (22/7) waktu setempat.
Pasangan ini dibawa ke Amerika Serikat setelah pasukan AS melakukan penyergapan dramatis di kediaman mereka di Caracas pada 3 Januari lalu. Maduro dan Flores menghadapi serangkaian dakwaan mengenai pelanggaran senjata dan narkoba, tuduhan nan secara tegas mereka bantah.
Berikut adalah rincian agenda dan poin krusial mengenai proses norma Nicolás Maduro:
| Tanggal Penangkapan | 3 Januari (Operasi Militer AS di Caracas) |
| Sidang Pra-Peradilan | 17 November |
| Awal Persidangan Utama | 1 Juni 2027 |
| Hakim Pemutus | Alvin Hellerstein |
| Dakwaan Utama | Pelanggaran senjata dan narkoba |
| Argumen Pembelaan | Imunitas kedaulatan (Sovereign Immunity) |
Suasana Ruang Sidang
Ruang sidang dipenuhi oleh visitor nan rela mengantre berjam-jam demi memandang langsung sosok Maduro. Mengenakan seragam penjara berwarna krem tanpa borgol, Maduro tampak tenang dan sempat memberikan anggukan kepada para visitor saat melangkah menuju meja pembela.
Selama persidangan, Maduro dan Flores menggunakan headphones untuk mendengarkan terjemahan saat pengacara mereka, Barry Pollack, berbincang dengan hakim. Pollack mengindikasikan bahwa pihaknya bakal menggunakan argumen keimunan kedaulatan, sebuah prinsip norma nan melindungi kepala negara dari tuntutan hukum, sebagai strategi pembelaan utama.
Petugas pengadilan menjaga ketat dekorum ruang sidang dengan memberikan peringatan keras kepada publik agar tidak berinteraksi langsung dengan terdakwa.
"Siapa pun nan melanggar ketertiban mungkin bakal menghadapi masalah norma sendiri," tegas petugas tersebut.
Reaksi Publik: Protes dan Dukungan
Di luar gedung pengadilan, terjadi polarisasi massa nan tajam. Kelompok aktivis antiperang dari Anti-War Action Network mengecam operasi militer AS dan menyebut proses norma ini sebagai "sidang semu". Mereka membawa poster bertuliskan "Bebaskan Presiden Maduro" dan menuduh AS mencoba mengontrol area Amerika Latin.
Sebaliknya, sejumlah penduduk Venezuela nan menetap di AS justru mendukung penuh penuntutan ini. Wilmer Contreras, seorang penduduk Venezuela nan telah tinggal di AS selama 30 tahun, menyebut Maduro sebagai pidana nan telah menghancurkan negaranya. Ia menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintahan Trump nan melakukan penangkapan militer tersebut.
Saat persidangan berakhir, Maduro sempat berdiri dan melambaikan tangan sekali ke arah publik sebelum dibawa kembali oleh US Marshals ke dalam tahanan pengadilan. (bbc/Z-1)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·