NV BIMA, Pabrik Legendaris Berusia 76 Tahun, Menembus Pasar Dunia

3 hari yang lalu 8
NV BIMA, Pabrik Legendaris Berusia 76 Tahun, Menembus Pasar Dunia Warga memandang sejumlah peralatan dapur nan diproduksi NV Bima di Kota Bandung(MI/NAVIANDRI)

DI tengah derasnya persaingan industri manufaktur, PT Perusahaan Logam NV BIMA membuktikan eksistensinya sebagai salah satu industri legendaris di Kota Bandung.

Berdiri sejak 1950, perusahaan nan dikenal sebagai produsen peralatan dapur seperti panci dan kuali ini tak hanya bisa memperkuat selama 76 tahun. Perusahaan nan sukses menjaga gedung berhistoris nan berstatus cagar budaya itu, sekarang menembus pasar internasional.

Akuntan PT Perusahaan Logam BIMA, Ratif Sinarto mengungkapkan, perjalanan panjang perusahaan tidak lepas dari keahlian beradaptasi terhadap perubahan zaman. Pada awal berdiri, BIMA hanya memasok kebutuhan peralatan bagi lembaga pemerintah sebelum akhirnya memperluas pasar ke masyarakat umum.

“Sudah 76 tahun kami bertahan. Itu bukan perjalanan nan mudah bagi sebuah pabrik manufaktur. Kami terus menghadapi beragam tantangan, perubahan era hingga persaingan industri nan semakin ketat,” tuturnya.

Menurut dia, perubahan strategi pemasaran tersebut menjadi titik krusial dalam perkembangan perusahaan. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat, BIMA terus melakukan penemuan sehingga bisa memperluas pasar tidak hanya di dalam negeri tetapi juga ke luar negeri.

Hingga sekarang produk-produk BIMA tetap mendapat respons positif dari masyarakat Indonesia. Bahkan sebagian besar produksinya telah dipasarkan ke beragam negara.

“Kami berterima kasih lantaran produk BIMA rupanya bisa bersaing di pasar internasional. Bahkan beberapa kali ada orang dari luar negeri membawa peralatan dapur dan rupanya itu adalah produk kami. Ini membuktikan teknologi dan kualitas industri Indonesia bisa bersaing di tingkat dunia,” ungkapnya.


CAGAR BUDAYA


Ratif menyebut, tak hanya dikenal melalui produknya, area pabrik BIMA juga mempunyai nilai sejarah nan tinggi. Bangunan bagian depan pabrik telah ditetapkan sebagai gedung cagar budaya oleh Pemerintah Kota Bandung.

Bangunan berarsitektur klasik seluas sekitar 600 hingga 700 meter persegi tersebut tetap dipertahankan keasliannya. Sementara total area pabrik mencapai sekitar 12.000 hingga 13.000 meter persegi.

"Selama puluhan tahun, perusahaan hanya melakukan perawatan dan pengecatan tanpa mengubah struktur utama bangunan. Langkah tersebut dilakukan sebagai corak komitmen menjaga keaslian warisan sejarah Kota Bandung. Kami tidak mengubah struktur bangunan. Tampilan depan tetap dipertahankan seperti aslinya. Bahkan pemilihan warna juga disesuaikan agar tetap selaras dengan karakter gedung cagar budaya,” terangnya.

Ratif  juga mengaku penetapan gedung BIMA sebagai cagar budaya, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi perusahaan sekaligus menjadi corak apresiasi pemerintah terhadap pelestarian gedung berhistoris di Kota Bandung.

Meski demikian, tantangan industri manufaktur ke depan dinilai semakin kompleks. Persaingan dengan produk sejenis, perubahan pola konsumsi masyarakat, izin hingga kenaikan biaya produksi menjadi tantangan nan kudu dihadapi.

"BIMA tetap optimistis mempertahankan eksistensinya sebagai industri lokal nan telah memasuki generasi kedua dan tengah mempersiapkan regenerasi kepemimpinan. Selama tetap ada dapur di setiap rumah, kebutuhan bakal peralatan memasak tidak bakal pernah hilang. Itu nan membikin kami tetap optimistis untuk terus berproduksi dan menghadirkan produk berkualitas,” tandasnya.

Ratif berambisi pemerintah terus memberikan support terhadap keberlangsungan industri manufaktur di Kota Bandung, terutama industri nan juga berkedudukan menjaga warisan sejarah kota melalui pelestarian gedung cagar budaya.

“Kami berterima kasih pemerintah memberikan apresiasi dengan menetapkan gedung ini sebagai cagar budaya. Itu menjadi kebanggaan bagi perusahaan sekaligus kebanggaan bagi Kota Bandung. Ke depan, kami berambisi industri manufaktur tetap mendapat support agar bisa memperkuat menghadapi tantangan zaman,” sambungnya.

Selengkapnya