Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, Ryan Haroen.(Dok. MI)
BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIPMI Jaya) mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadikan publikasi obligasi daerah senilai Rp3,5 triliun pada 2027 sebagai pintu masuk bagi keterlibatan pengusaha muda dalam proyek-proyek strategis Jakarta.
Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, Ryan Haroen, mengatakan obligasi wilayah tidak cukup hanya menjadi sumber pembiayaan alternatif. Instrumen tersebut kudu diarahkan untuk mendanai proyek produktif, mempunyai akibat ekonomi nan terukur, serta dilaksanakan dengan tata kelola nan transparan dan kredibel.
“Rencana Pemprov DKI Jakarta ini dapat memberikan kesempatan kepada pengusaha muda, khususnya personil HIPMI Jaya, untuk berkontribusi dalam pembangunan kota melalui pendekatan nan inovatif dan kolaboratif,” ujar Ryan Haroen.
Menurut Ryan, publikasi obligasi wilayah juga menunjukkan perubahan paradigma dalam pengelolaan finansial Jakarta. Pemerintah wilayah tidak lagi hanya mengandalkan APBD, tetapi mulai memanfaatkan instrumen pembiayaan jangka panjang untuk mempercepat pembangunan prasarana dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
“Obligasi wilayah bukan gambaran bahwa Jakarta kekurangan anggaran. Ini merupakan bagian dari pengelolaan neraca daerah nan lebih ahli dan adaptif,” katanya.
Ryan menilai obligasi wilayah dapat memperluas partisipasi sektor swasta, penanammodal institusional, maupun masyarakat dalam pembangunan Jakarta. Namun, kepercayaan penanammodal bakal sangat ditentukan oleh kejelasan penggunaan dana, kepantasan proyek, transparansi informasi, serta konsistensi pemerintah dalam memenuhi kewajibannya.
“Kebijakan ini membuka ruang bagi sektor swasta dan penanammodal publik untuk ikut menggerakkan ekonomi daerah. Pengusaha muda kudu mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah, bukan hanya sebagai penonton pembangunan,” ujar Ryan.
Pemprov DKI Jakarta berencana menerbitkan obligasi wilayah senilai Rp3,5 triliun pada 2027, bertepatan dengan peringatan lima abad Kota Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut rencana tersebut sebagai terobosan pembiayaan imajinatif pemerintah daerah.
HIPMI Jaya memandang kebutuhan terhadap sumber pembiayaan pengganti semakin krusial di tengah meningkatnya kebutuhan shopping untuk pemeliharaan infrastruktur, transportasi publik, penyediaan air bersih, pengendalian banjir, penyesuaian perubahan iklim, dan penguatan prasarana digital.
Ketergantungan pada APBD sebagai satu-satunya sumber pembiayaan berpotensi membatasi kecepatan realisasi proyek-proyek tersebut. Karena itu, obligasi wilayah dapat menjadi solusi sepanjang biaya nan diperoleh digunakan untuk proyek nan produktif dan memberikan faedah ekonomi maupun sosial dalam jangka panjang.
Ryan mengatakan pembangunan prasarana bakal semakin menentukan daya saing Jakarta setelah kota tersebut tidak lagi menjadi ibu kota negara. Kualitas transportasi, jasa dasar, konektivitas digital, dan ketahanan kota bakal memengaruhi keahlian Jakarta menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mempertahankan posisinya sebagai pusat aktivitas ekonomi.
“Jakarta mempunyai pedoman ekonomi, kapabilitas fiskal, dan aset wilayah nan memadai untuk membangun sistem pembiayaan nan lebih maju. Dengan tata kelola nan kredibel, obligasi wilayah bukan hanya menjadi sumber pendanaan, tetapi juga instrumen untuk memperkuat kepercayaan penanammodal dan mempercepat pembangunan,” tutup Ryan. (Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·